Matius 18:15-17
Oleh: Pendeta Reinhold Kesaulya

Apakah ada di antara kita yang mau dikoreksi?
• Pernahkah anda secara gramatikal dikoreksi? Ketika anda selesai berbicara, berkhotbah atau menulis sebuah artikel, pernahkah anda dikoreksi soal bahasa yang dipakai, gramatika yang tepat bersama fakta dan data yang anda uraikan?
• Pernahkah anda ketika selesai menceritakan suatu cerita, seseorang di antara hadirin berdiri dan menentang anda dengan berkata: “Cerita tersebut tidak benar. Saya perhatikan bahwa apa yang anda ucapkan itu 90% tidak benar dan yang sisa 10%-nya itu juga masih diragukan kebenarannya”? Pernahkah anda secara rohani dikoreksi?

Apakah koreksi itu perlu?
• Tentu! Yesus sendiri menginstruksikan mengenai ”Apa Yang Harus Dibuat Terhadap Seorang Saudara Yang Bersalah.” Dengan kata lain ialah bagaimana kita mengoreksi saudara kita tersebut.
Matius 18:15 “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Banyak orang menganggap bahwa ayat-ayat tersebut di atas ada hubungannya dengan Disiplin Sidang, Pemecatan atau Pengucilan. Bila kita jujur dalam penyelidikan, maka Matius 18:15-17 muncul setelah Yesus berbicara dalam ayat 12 “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Kemudian Yesus lanjutkan dalam ayat 14: “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Inti dari pembahasan ini ialah bagaimana usaha diadakan untuk menyelamatkan salah seorang saudara kita yang hilang. Apakah itu berarti bahwa tidak akan ada disiplin? Oh tidak. Disiplin harus dijalankan karena: Bagaimana seseorang bisa tetap segar dan sehat secara phisik kalau ia tidak mendisiplin diri dalam berolahraga? Bagaimana seseorang boleh menjadi pintar kalau ia tidak mendisiplin diri untuk belajar? Bagaimana seseorang dapat menjadi dewasa secara rohani tanpa disiplin? Jika Bapa di Surga mengirim Anak-Nya untuk mati bagi dunia, bagaimana sikap saya dan saudara sebagai anak-anak-Nya dalam usaha menyelamatkan orang lain.

1. Kita Harus Menaruh Perhatian Penuh Saat Mengoreksi
Jika anda melihat salah seorang saudaramu berbuat dosa, berbicaralah kepadanya! (Ayat 5). ”Tegorlah dia di bawah empat mata!” Secara pribadi. Semoga masaalahnya dapat diselesaikan dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Katakan hanya kepada orang tersebut kesalahannya dan bukan kepada orang lain! Jangan bergosip! Jangan obral kelemahan saudara kita itu kepada semua orang.
Amsal 17:4 Orang yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.
Kalau anda menaruh perhatian penuh untuk keselamatan saudaramu, anda harus mengatakan kepadanya apa kesalahannya. Dan langkah pertama ini harus dilaksanakan di bawah empat mata.
Apakah ada pengecualian terhadap perintah Yesus ini? Tidak!
Kalau ia menyakiti hatimu: Berbicaralah kepadanya!
Kalau ia membuat hal-hal untuk menghancurkan jemaat: Berbicaralah kepadanya.
Jangan berpikir bahwa ia sudah mengetahui tentang kesalahan yang telah ia lakukan. Walaupun demikian anda harus tetap berbicara kepadanya. Galatia 6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

2. Menaruh Perhatian Penuh Untuk Terus Mengoreksi
Kalau ia tidak mau mendengarkan nasihat anda, berbicara lagi kepadanya bersama ’seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” (Ayat 16).
Berbicaralah kepadanya secara terbuka! Mungkin saja ia akan mendengarkan nasihat anda bersama saksi-saksi tersebut! Kalau ia masih saja tidak mau mendengarkan nasihat anda berdua, bicara lagi kepadanya kali ini bersama jemaat. Kemungkinan besar ia mau mendengarkan nasihat banyak orang.

3. Mencari-cari Kesalahan Orang Lain. Bagaimana Mengatasinya?
Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Kita sekarang ini tidak berburu rusa, sapi liar, burung atau ikan. Ada jenis perburuan lain yang terus berlanjut bila kita tidak memiliki kata-kata sopan untuk diutarakan, ketika kita dendam kepada seseorang atau mau mempertahankan pendapat sendiri. Kita berburu kelemahan orang lain oleh mempertalikan motif-motif yang tidak layak, oleh menerapkan interpretasi jelek kepada sikap dan tindak tanduk mereka dan membuat keputusan berdasarkan asumsi, tidak memiliki dasar yang kuat, tanpa fakta-fakta otentik disertai sakit hati, kecemburuan dan kedengkian. Mengapa sampai ada orang yang melakukan hal sedemikian? 3 hal penting perlu disimak berikut ini.

1. Suatu usaha untuk menarik perhatian kepada dosa orang lain sehingga dosa sendiri tidak diperhatikan orang.
Yohanes 12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. 12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 12:5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” 12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
Yudas berusaha menarik perhatian Tuhan Yesus dan semua hadirin agar ditujukan kepada tindakan Maria supaya mempersalahkannya, sehingga orang tidak memperhatikan kesalahannya karena ia sendiri ’adalah seorang pencuri.”(Yohanes 12:6).

2. Suatu usaha membenarkan diri sendiri yang penuh dosa.
Roma 2:1 Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. 2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. 2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? 2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? 2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.

3. Suatu usaha untuk membentengi diri sendiri sambil menghancurkan orang lain.
Lukas 18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 18:10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Jika ada kecenderungan mau menghakimi, menuduh atau menceritakan dosa orang lain, tanyakan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut ini:
1. Apakah beritanya benar?
2. Apakah sudah banyak dan cukup fakta tersedia?
3. Apakah perlu disampaikan?
4. Kepada siapa harus disampaikan?
5. Apakah orang yang akan kita sampaikan berita itu tepat?
6. Apakah waktunya tepat?
7. Apakah tidak akan menyakiti atau menyusahkan orang yang dituduh, keluarganya, jemaatnya dan sahabat-sahabatnya?
8. Siapkah kita untuk menghadapi konsekwensi tuduhan dari yang bersangkutan, keluarganya, jemaat dan bahkan dari hamba hukum?
9. Apakah dia yang menceritakan dosa orang lain itu sendiri sudah suci, sempurna tanpa dosa?
10. Sediakah dia menanda tangani pernyataan sebagai saksi?
11. Apakah ada manfaat rohani yang menyelamatkan?
12. Apakah sudah dipratekkan nasehat Tuhan Yesus dalam Matius 18:15-17 di atas? Sudahkah diadakan pertemuan empat mata, atau dua tiga orang saksi atau jemaat dengan orang tersebut?
Apakah ada obat penyembuh bagi penyakit suka memburu kelemahan orang lain ini? Ada!
1. Kasih. 1 Petrus 4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
2. Praktekkan Peraturan Emas. Matius 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
3. Periksa dulu diri sendiri. 2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
4. Bila mau mencari-cari kelemahan orang lain, gunakan cermin muka dan bukan teleskop.
5. Sebelum menuduh orang lain, hitung dulu sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) kesalahan sendiri. Kenapa 10? Jangan-jangan yang menuduh sendiri sementara membuat pelanggaran terhadap 10 Hukum Tuhan.
6. Selalu melihat dan mencari-cari kebaikan orang lain. Selidik Kisah 9:26-30 = Bagaimana Barnabas menolong dan melindungi Paulus. Baca Kisah 15:36-41 = Barnabas mengambil Markus yang telah ditolak oleh Paulus.
7. Minta pertolongan Tuhan melalui doa dan penyerahan penuh kepada bimbingan Roh Kudus untuk mengatasi kelemahan ini. Ephesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
8. Ingat, bahwa orang yang anda sakiti dan hakimi itu adalah saudaramu laki-laki dan saudaramu perempuan. Matius 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
9. Tempatkan diri anda pada pihak orang yang dituduh, dihakimi atau diberita-beritakan. Contoh kehidupan Nabi Yehezkiel sebelum memberi nasehat kepada bangsanya, ia duduk bersama mereka selama tujuh hari. Yehezkiel 3:15 Demikianlah aku datang kepada orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari. 3:16 Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku: 3:17 “Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. 3:18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! — dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 3:19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.
10. Tinggal dulu bersama saudara yang akan kita tuduh tersebut. Hidup bersama-sama dia paling kurang 7 hari sesuai teladan Yehezkiel. Kemudian nasehati dia. Gunakan metode Tuhan Yesus dalam Matius 18:15-17.
11. Tanyakan dulu diri kita sendiri: “Bagaimana kalau sekiranya sayalah yang bersalah?” Contoh: Natanael ketika memberi komentar tentang Tuhan Yesus yang berasal dari Nazareth . Yohanes 1:45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Yohanes 1:46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Rasul Paul sendiri telah salah menanggapi Markus. (Baca: Kisah 15:36-39) Kisah Para Rasul 15:36 Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota , di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.” 15:37 Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; 15:38 tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. 15:39 Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.
12. Ingat dan sadar akan apa yang akan terjadi nanti kepada kita kalau kita terbiasa menghakimi orang lain:
(12.a.) Kita tidak dapat melihat dan menyadari kesalahan sendiri. Karena selalu memperhatikan kesalahan orang lain, maka kesalahan sendiri tidak lagi diperhatikan dan diperbaiki.(12.b.) Kita juga tidak mampu memberikan komentar positif tentang seseorang. Bila sudah terbiasa berkomentar negatif, dan berpikir negatif mengenai diri orang lain maka lama kelamaan akan menjadi tabiat yang sukar di rubah lagi. (12.c.) Pertobatan dan pengakuan kesalahan sendiri menjadi semakin sulit. Semua kita ini adalah orang berdosa. Roma 3:10 seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. 3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. 3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. 3:13 Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. 3:14 Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, 3:15 kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. 3:16 Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, 3:17 dan jalan damai tidak mereka kenal; 3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”(12.d.) Kita akan dibenci oleh mereka yang kita hakimi atau tuduh.(12.e.) Tidak ada lagi sukacita dalam hidup ini.
Tuhan kiranya memberkati kita semua. Dan semoga nasehat Firman Tuhan ini menolong kita yang masih bergumul untuk mencapai kehidupan dan tabiat yang sama seperti kehidupan dan tabiat Tuhan kita Yesus Kristus.
Pilipi 2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Syaloom dan Tuhan kiranya memberkati.