“Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah GEMPA BUMI yang dahsyat dan MATA HARI menjadi hitam BAGAIKAN karung rambut dan BULAN menjadi MERAH SELURUHNYA bagaikan darah. Dan BINTANG-BINTANG DI LANGIT berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia di goncang angin yang kencang. Maka menyusutlah LANGIT BAGAIKAN gulungan kitab yang digulung dan TERGESERLAH GUNUNG-GUNUNG DAN PULAU-PULAU dari tempatnya” (Wahyu 6:12-14).

Ayat hari ini berisikan enam hal. Yang pertama dan terakhir dari keenamnya adalah gempa bumi yang begitu hebatnya sehingga gunung-gunung dan pulau-pulau bergeser dari tempatnya, suatu kejadian yang benar-benar membawa bencana. Di antara ke dua gempa bumi tersebut terjadi empat tanda-tanda langit, yaitu matahari menjadi gelap, bulan menjadi merah bagaikan darah, bintang-bintang berjatuhan ke atas bumi, dan langit menyusut.

Gambaran ini dapat terjadi secara harfiah atau spiritual. Saya tidak melihat adanya hal khusus untuk memandangnya sebagai bersifat simbolik. Dalam bahasa Yunani, kata hos (diterjemahkan “seperti”) biasanya membandingkan sesuatu yang bersifat harfiah dengan sesuatu yang bersifat figuratif (perumpamaan). Polanya di sini adalah bahwa matahari menjadi hitam “seperti karung rambut,” bulan menjadi “merah seperti darah,” bintang-bintang berjatuhan “seperti pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah,” dan langit menyusut “seperti gulungan kitab yang digulung.” Jadi kita harus melihat matahari, bulan, bintang-bintang, dan langit secara harfiah dan apa yang terjadi pada mereka secara figuratif.

Tiga peristiwa terjadi di masa lalu. Pada tahun 1780, hari yang gelap gulita menyebar ke seluruh Amerika Utara. Malam itu bulan berubah menjadi merah. Lalu di bulan November 1833, terjadi hujan meteor yang begitu spektakuler sehingga banyak orang menganggap zaman akhir telah tiba.

Namun penafsiran ayat ini tidak dapat terhenti pada abad kesembilan belas. Uraian di dalam ayat 14 jauh melebihi catatan sejarah mana pun juga. Langit menyusut dan setiap pulau bergeser dari tempatnya adalah peristiwa-peristiwa yang masih belum kita saksikan, merujuk pada saat-saat sebelum kedatangan Yesus kembali.

Kita menemukan pesan rohani di dalam ayat hari ini saat kita mengamati ayat Perjanjian Lama yang digemakannya. “Sebab biar pun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak darimu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang.” (Yesaya 54:10). Jaminannya adalah, tidak peduli apa yang terjadi, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Tuhan, aku merindukan keyakinan bahwa seluruh hidupku aman terlindung dalam tangan-Mu, tidak peduli apa pun keadaan yang kuhadapi hari ini.