“DAN EKOR MEREKA SAMA SEPERTI KALAJENGKING DAN ADA SENGATNYA, dan di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa mereka untuk menyakiti manusia lima bulan lamanya. DAN RAJA YANG MEMERINTAH MEREKA IALAH MALAIKAT JURANG MAUT; NAMANYA DALAM BAHASA IBRANI IALAH ABADON DAN DALAM BAHASA YUNANI IALAH APOLION” (Wahyu 9:10,11)

Sangkakala ke lima berisikan banyak gambaran yang pasti tak asing lagi bagi para pembaca di zaman Yohanes. Kegelapan adalah lawan dari terang. Dalam Perjanjian Baru, itu mewakili suatu filosofi yang menyangkal Yesus dan Injil-Nya (Yohanes 3:18-21). Jurang maut adalah tempat di mana Allah memenjarakan setan-setan (Lukas 8:30,31). Dan ekor adalah simbol dari nabi-nabi pendusta (Yesaya 9:15). Walaupun banyak bagian sangkakala ini tetap misterius, “tulah” merupakan wabah rohani yang menyiksa para pengikut Setan tetapi tidak melukai mereka yang dimeteraikan (Wahyu 9:4-6). Tulah itu membuat orang-orang durjana berada dalam kesengsaraan (ayat 65,6). Matahari Firman Allah mengalami gerhana, tetapi tidak dihancurkan (ayat 2,3). Simbol ini sesuai dengan efek-efek sekularisme dalam dunia kita dewasa ini.

Sekularisasi merupakan proses di mana manusia semakin tidak terhubung dengan organisasi kerohanian. Mereka bukan ateis, tetapi orang-orang dengan pemikiran sekular dan sengaja tidak meluangkan waktu untuk berhubungan dengan Tuhan dan/atau dengan agama. Sekularisasi sebenarnya tidak sepenuhnya buruk, seringkali menghargai hak-hak kemanusiaan dan kebebasan beragama. Lembaga-lembaga Alkitab, perkembangan ilmu pengetahuan, dan arkeologi sulit untuk dibayangkan di dunia ini tanpa kebebasan berpikir dan iman. Jadi sekularisasi dunia Barat juga memiliki sisi positif.

Tentu sekularisasi juga memiliki dampak negatif. Melalui revolusi Perancis dan Rusia, hak itu membukakan pintu pada komunisme yang membuat praktik iman menjadi sangat sulit. Sekularisasi juga membukakan jalan pada ekumenisme yang tidak benar. Dan ekumenisme tipe tertentu akan mengikis iman seraya menekankan, “Jangan fanatik. Tidak penting apa yang engkau yakini!” Selain itu, sekularisasi juga mengarah pada materialisme yang tidak terkendali. Terutama jika Anda percaya bahwa tidak ada Allah, maka kehidupan hanya berkisar seputar berbelanja dan makan.

Pada akhirnya, sekularisasi merupakan tren yang Allah pakai untuk menghakimi para penindas dan memerdekakan umat-Nya untuk melayani Dia tanpa dibatasi. Dan indahnya sangkakala ke lima adalah karena itu tidak menyakiti orang-orang yang mengenal Allah. Sebuah stiker bemper yang saya lihat beberapa waktu yang lalu menyatakan tanggapan akhir orang-orang Kristen terhadap sekularisasi: “Allah tidak mati, saya bicara dengan-Nya kemarin malam.”

Tuhan, dalam dunia yang mengabaikan Engkau dalam pencarian kekayaan dan kesenangan, jaga agar aku tetap terfokus pada hadirat-Mu yang hidup.