“Dan ekor mereka sama seperti kalajengking dan ada sengatnya, dan di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa untuk menyakiti manusia, lima bulan lamanya. Dan raja yang memerintah mereka ialah MALAIKAT JURANG MAUT; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion” (Wahyu 9:10, 11).

Saya menjadi seorang pendeta di New York City sepanjang tahun 1980. Salah satu keuntungan tinggal di kota besar ialah akses kepada budaya kelas dunia. Hal yang paling kami sukai dari akses itu adalah Museum of Natural History di bagian barat Taman Pusat Kota Manhattan. Museum itu memiliki diorama-diorama mengagumkan dari pemandangan-pemandangan seluruh dunia, ribuan batu mulia dan mineral, serta kerangka dinosaurus raksasa yang membuat mata anak-anak saya terbelalak takjub. Saya dan istri saya begitu menyukai tempat itu sehingga kami memutuskan untuk menjadi anggota klubnya, di mana hal itu membuat kami menjadi bagian dari budaya New York. Para anggota klub museum menerima undangan-undangan khusus mengikuti seminar-seminar. Keuntungan lain ialah kesempatan menyaksikan benda-benda baru di museum sebelum dipamerkan untuk umum.

Pada suatu kesempatan pihak museum memperlihatkan artefak-artefak reruntuhan kota Pompeii. Acara itu dijadwalkan hanya untuk anggota klub dan dilaksanakan hanya satu malam. Kemudian setelah pameran selesai kami dipersilakan menyaksikan film The Last Days of Pompeii yang dibuat tahun 1935. Saya benar-benar terpana. Film itu merupakan satu cerita yang kuar biasa tentang Injil dan efeknya terhadap nilai-nilai yang dimiliki manusia di abad pertama. Untuk pertama kalinya saya menyadari betapa kuat pengaruh sekularisasi terhadap dunia Barat.

Dampak tersebut semakin berlipat ganda di akhir film. Saat lampu-lampu dinyalakan kembali moderator acara naik ke atas podium, dan dengan nada suara penuh sindiran dia berkata, “Ya, kita baru saja menerima nasihat moral, bukan?” Saya takjub menyaksikan betapa jauh kita telah menyimpang dari nilai-nilai Kristiani dalam waktu kurang dari 45 tahun! Menariknya lagi, kita nyaris tidak menyadarinya. Seperti katak di bawah tempurung, sekularisasi makin bertambah secara berangsur-angsur dan tidka pernah disadari bahwa Allah tidak lagi memainkan peran penting dalam kehidupan kita.

Sangkakala kelima memperingatkan kita agar tidak menyerah pada silaunya materialisme dan teknologi. Kehidupan tanpa Allah hanya berakhir di dalam siksaan dan penderitaan (Why. 9:5, 6). Itu akan membawa pada hilangnya makna dan arah serta menciptakan kehampaan yang hanya dapat dilihat orang di keheningan malam. Meskipun bersembunyi di balik topeng kesenangan dan permainan, malaikat jurang maut itu adalah pengawas yang keras.

Tuhan, aku menyadari telah menjauh dari-Mu. Saat aku terlalu sibuk untuk membaca Firman-Mu dan untuk berdoa, arus dunia menghanyutkan aku.