“Lalu malaikat yang yang keenam meniup sangkakalanya, dan aku mendengar suatu suara ke luar dari KEEMPAT TANDUK MEZBAH EMAS yang di hadapan Allah, dan berkata kepada malaikat yang ke enam yang memegang sangkakala itu: Lepaskanlah ke empat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat itu” (Wahyu 9:13,14).

Di dalam sangkakala ke lima suatu bencana jahat menyebabkan sejumlah besar orang ingin mati, tetapi mereka tidak mendapatkannya (Wahyu 9:1-6). Sangkakala ke enam mengabulkan keinginan sepertiga umat manusia itu. Sama mengerikannya dengan sangkakala ke enam, ayat ini diawali dengan adanya suara dari ke empat tanduk mezbah. Kitab Suci melambangkan tanduk mezbah sebagai tempat belas kasihan.

Ketika Daud berumur 70 tahun, kesehatannya memburuk dan pengendalian atas kerajaannya semakin menurun. Ketidakstabilan mengancam ketika anak-anaknya berlomba-lomba menjadi raja menggantikan dia. Adonia, anak ke dua tertua sesudah Absalom, mendapat dukungan dari Yoab, panglima tentara Daud, dan Abyatar, imam besar. Karena ke dua orang ini telah menunjukkan kesetiaan kepada Daud pada masa pemberontakan Absalom, Adonia beranggapan bahwa dia telah mendapatkan dukungan Daud. Namun orang-orang penting dalam ketentaraan dan di antara imam-imam besar tidak ikut serta dalam “penobatan” Adonia di luar Kota Yerusalem (1 Raja-raja 1:5-10).

Natan berunding dengan Batsyeba untuk melibatkan Daud. Lalu Daud memutuskan mewariskan takhta kepada Salomo. Jadi Zadok, imam besar ke dua, mengurapi Salomo sebagai raja, dan dengan perayaan besar-besaran, putra Batsyeba pun duduk di takhta Daud di Yerusalem. Setelah peniupan sangkakala, orang banyak menyerukan, “Hidup raja Salomo!” (ayat 11-49).

Suara kegaduhan pengangkatan raja Salomo terbawa ke selatan di mana Adonia dan para pengikutnya juga merayakan pengangkatan dirinya menjadi raja. “Apakah sebabnya kota begitu ribut?” tanya Yoab (ayat 41). Pada saat itu putra Abyatar tiba dan menceritakan tindakan Daud. Seketika itu, semua tamu-tamu Adonia lari menyelamatkan diri. Ditinggalkan sendiri, Adonia langsung pergi ke Bait Suci, dan memegang tanduk-tanduk mezbah, memohon perlindungan Tuhan. Salomo menghormati dan membiarkan dia tetap hidup, dengan syarat berkelakuan baik di kemudian hari (ayat 42;53).

Walaupun sangkakala ke enam sangat mengerikan, tetapi dengan disebutnya tanduk-tanduk pada mezbah telah memberikan sentuhan kemurahan hati pada bencana itu. Pintu kepada keselamatan belum tertutup. Sementara dunia bergeser kepada pengrusakan tahap terakhir, masih ada kesempatan untuk mendengarkan suara Yesus dan bertobat. Ketika kehidupan mengecewakan kita seperti Adonia, satu-satunya hal masuk akal yang dapat dilakukan adalah menggantungkan jiwa kita yang tak berdaya kepada belas kasihan Allah.

Tuhan, aku tidak membawa apa pun juga, hanya pada salib-Mu aku bergantung. Hari ini aku mengandalkan Engkau untuk segala yang kubutuhkan.