“Lalu malaikat yang keenam meniup sangkakalanya, dan aku mendengar suatu suara ke luar dari keempat tanduk mezbah emas yang di hadapan Allah, dan berkata kepada malaikat yang keenam yang memegang sangkakala itu: LEPASKANLAH KEEMPAT MALAIKAT YANG TERIKAT DEKAT SUNGAI BESAR EFRAT ITU” (Wahyu 9:13,14).

Dunia kita dikenal sebagai planet biru, karena persediaan airnya yang melimpah meliputi tiga perempat dari permukaan bumi. Sayangnya, 98 persen air ini berada di lautan, dan hanya 2 persen sebagai air tawar. Semakin memperburuk masalah, 90 persen dari persediaan air tawar itu jika tidak berada di kutub atau berada di bawah tanah. Jadi manusia memiliki akses hanya pada sebagian kecil dari 1 persen (0.26) persediaan air bumi.

Persediaan air tawar adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah negara. Kebanyakan “negara berkembang” menempati daerah-daerah kering atau semi tandus di dunia ini. Sementara di sisi lain, Eropa, memiliki setengah dari permukaan air yang bergerak di seluruh dunia. Sehingga tidak mengherankan jika daerah itu memainkan peranan penting dalam segala permasalahan dunia akhir-akhir ini. Dengan bertambahnya populasi dunia, peperangan memperebutkan persediaan air tawar akan semakin mudah terjadi.

Dalam Alkitab, persediaan air selalu sangat terbatas. Tempat-tempat yang berlimpah air tawar seperti Sungai Efrat menjamin kekuasaan dan kekayaan mereka yang menguasainya. Dalam ayat hari ini, sungai itu melambangkan kekuasaan besar serta sumber-sumber perlawanan terakhir kepada Allah di dunia ini. Umat-Nya, pada zaman purba, tinggal di negeri yang hanya memiliki satu sumber air tawar, Laut Galilea. Oleh sebab itu, mereka harus mengandalkan langit untuk memberikan embun saat mereka membutuhkannya.

Persamaan yang kuat terjadi antara sangkakala yang ke enam dan dua pemandangan lain dalam Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 7:1-4 ada empat malaikat, satu bentuk perlawanan, dan kata-kata Yohanes “aku mendengar jumlah mereka.” Jadi dua puluh ribu laksa pasukan dalam Wahyu 9:16,17, akan berdiri berbeda dengan 144.000 orang para pengikut Tuhan di zaman akhir. Kita juga memerhatikan persamaan pada cawan yang ke enam, di mana terdapat Sungai Efrat, bahasa militer, dan kumpulan roh-roh jahat (Wahyu 16:13-16). Dalam hal ini, sangkakala ke enam menggambarkan perkumpulan pasukan Setan di masa akhir untuk peperangan Harmagedon.

Kitab Wahyu berisikan banyak adegan peperangan. Tapi peperangan itu lebih berkaitan dengan kemajuan Injil daripada permasalahan bangsa-bangsa. Peperangan yang penting bagi Allah adalah peperangan yang terjadi dalam pikiran kita setiap hari. Sementara kita berjalan mendekati masa akhir, keputusan yang kecil sekalipun dapat memengaruhi kehidupan kekal kita.

Tuhan, aku merasakan kekuatan peperangan menggelora di dalam diriku. Bantu aku hari ini untuk sepenuhnya memercayai kekuatan salib untuk mencapai kemenangan.