“Maka dilepaskanlah keempat malaikat yang telah disiapkan bagi jam dan hari, bulan dan tahun untuk MEMBUNUH SEPERTIGA DARI UMAT MANUSIA” (Wahyu 9:15).

Dalam gambaran yang lebih besar sangkakala keenam, keempat malaikat ini mengumpulkan “balatentara mereka” yang berpakaian warna merah, biru dan kuning pucat. Para malaikat dan balatentara mereka hanya bertujuan membunuh umat manusia dalam jumlah besar. Dapat Anda katakan bahwa mereka adalah alat pemusnah massal. Senjata mematikan yang mereka lancarkan, yang ke luar dari mulut dan ekor dari ke-200 juta pasukan berkuda, membunuh sepertiga umat manusia. Dalam latar semua kehancuran ini, mengintai “malaikat jurang maut” (Wahyu 9:11). Desakan untuk membinasakan itu timbul dari hati Setan yang angkuh dan penuh pembalasan dendam.

Seorang kawan saya, Gordon Retzer, menceritakan kisah Frank Taitague, yang mengenal desakan ini pada pengalaman pribadinya. Sebagai penduduk Guam, Taitague masih remaja ketika Jepang menguasai Guam selama Perang Dunia II. Dalam upayanya untuk sepenuhnya menguasai pulau tersebut, Jepang memutuskan membunuh semua penduduk pulau. Taitague berhasil melarikan diri ke perbukitan, tetapi masih sempat menyaksikan kemenakannya berusia 8 tahun dihempaskan ke tanah lalu ditendangi dengan kejam. Bilamana perang berakhir dan Amerika membebaskan negeranya, dia tetap menjadi tawanan kebencian, bertekad membalas dendam.

Taitague selalu membawa senapan ke mana-mana. Seperti keempat malaikat dalam Wahyu, dia telah menetapkan tujuannya untuk membunuh. Suatu hari dia berpapasan dengan beberapa serdadu Jepang yang tidak sempat meninggalkan pulau ketika perang berakhir. Segera dia membidik, bersiap-siap membunuh tanpa penyesalan sedikut pun. Tetapi sebelum menarik pelatuk, seseorang menyambar lengannya. Orang-orang bisa menghentikan tepat pada waktunya adalah ayahnya. Sebagai seorang anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang penuh dedikasi, ayahnya mengingatkan bahwa dia mengimpikan Frank menjadi pendeta, yang membawa kehidupan bukannya membunuh. Bersama-sama mereka memutuskan Frank meninggalkan pulau dan pergi ke Pacific Union College untuk belajar menjadi hamba Tuhan.

Tapi Allah belum selesai dengan Frank Taitague. Ketika dia tiba di universitas, kepala asrama putra menempatkannya di sebuah kamar dan memberitahukan kepadanya bahwa teman sekamarnya telah tiba. Frank tiba di kamarnya dan mengetuk pintu. Seorang siswa Jepang membukakan pintu. Secara naluriah, Frank mengepalkan tinjunya, bersiap berkelahi. Tetapi Allah mengerjakan suatu keajaiban dalam hidupnya. Dia dan rekan sekamarnya pun bersahabat karib. Rencana Allah untuk mengasihi dan memberi kehidupan telah menggantikan rencana Setan untuk membenci dan membunuh.

Tuhan, Engkaulah pemberi hidup. Hanya Engkau yang sanggup mengubah cara pikiranku dan bagaimana harus bersikap. Bantu aku untuk mengasihi-Mu.