“Oleh ketiga malapetaka ini dibunuh sepertiga dari umat manusia, yaitu oleh api, dan asap dan belerang, YANG KE LUAR DARI MULUTNYA. SEBAB KUASA KUDA-KUDA ITU TERDAPAT DI DALAM MULUTNYA DAN DI DALAM EKORNYA. Sebab ekornya sama seperti ular; mereka berkepala dan dengan kepala mereka itu mereka mendatangkan kerusakan” (Wahyu 9:18,19).

Uraian ini mengindikasikan, tulah sangkakala ke enam ada kaitannya dengan tulah sangkakala ke lima. Kuasa untuk menyakiti dalam sangkakala ke lima ada di ekor, sementara dalam sangkakala ini ada di mulut dan ekornya. Jadi kita mengamati suatu peningkatan kengerian di sini. Kabar baiknya adalah bahwa tulah sangkakala ini difokuskan kepada orang-orang jahat (Wahyu 9:4,20,21). Allah sangat sanggup melindungi umat kepunyaan-Nya.

Pada tahun 1944, kota Belgrade yang dikuasai Nazi diserang Tentara Merah dan para pejuang Yugoslavia. Istri Martin, Melanie, jatuh sakit setelah melahirkan. Saat pertempuran makin menghebat, Martin mengambil risiko membawa perlengkapan yang dibutuhkannya. Tapi tiba-tiba saja dia merasa terdorong untuk meninggalkan istrinya dan pergi ke kantor pusat gereja.

Mengindahkan panggilan Tuhan, dia bergegas menyusuri jalan-jalan bergelimang darah. Saat tiba di jalan di mana kantor pusat gereja berada, dia melihat empat pria berjalan ke arahnya. Saat mendekatinya, dia pun sadar bahwa ada tiga serdadu berseragam menggiring pendetanya, Joseph Vitner.

“Saudara Vitner, mau ke mana?” tanyanya. “Para serdadu menangkap saya,” jawab pria itu. Martin sadar bahwa Vitner adalah keturunan Jerman dan para serdadu itu orang-orang Yugoslavia. Sang pendeta sekarang menghadapi maut karena didakwa “bekerja sama” dengan Nazi. Segera Martin terdorong memohon kepada salah seorang serdadu itu agar membiarkan dia sendiri yang ditangkap menggantikan Vitner. “Dia pria yang jauh lebih baik dibandingkan engkau dan aku,” katanya. Sambil menggiring Vitner meninggalkan tempat itu, serdadu itu berkata, “Jika dia memang pria yang baik, dia akan baik-baik saja. Tetapi jika tidak, dia akan menghadapi regu tembak.”

Merasa yakin dengan masalah itu, Martin meyakinkan para anggota jemaat bahwa pendeta mereka akan kembali dalam waktu singkat. Dan memang! Vitner melaporkan bahwa para serdadu segera menggiringnya ke hadapan regu tembak. Tetapi seorang serdadu muda menyela komandannya, “Pak, separuh Kota Belgrade membela pria ini!” Sang komandan merespons, “Kami butuh lebih banyak orang seperti Anda. Pulanglah dan rawat keluargamu.”

Kita tidak pernah tahu bagaimana perkataan seorang pria akhirnya menjadi permohonan “seluruh kota,” namun firasat Martin untuk segera pergi dan mengatakan apa yang ia katakan agaknya telah diatur oleh Allah. Seperti Pendeta Vitner, kita tidak perlu takut terhadap tulah api, karena hidup kita ada di tangan Allah.

Tuhan, beri aku keyakinan hari ini bahwa hidupku ada dalam tangan-Mu.