Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata : ‘METERAIKANLAH APA YANG DIKATAKAN OLEH KETUJUH GURUH ITU DAN JANGANLAH ENGKAU MENULISKANNYA!’” (Wahyu 10:4).

Yohanes menyaksikan ketujuh guruh dan mendapati bahwa dia ingin menuliskannya, tetapi ada suara dari surga yang menyuruhnya agar tidak menuliskannya. Ketujuh guruh itu jelas mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang tidak perlu kita ketahui. Hal-hal tersembunyi adalah milik Allah (Ul. 29:29). Tidak peduli seberapa banyak yang kita pelajari, tidak peduli seberapa birilian kita, kita hanya tahu sebagian saja sampai Yesus datang kembali (1 Kor. 13:9). Kita harus terbuka pada keterbatasan pemahaman kita dan tidak berbicara secara dogmatis hal-hal yang belum pasti. Terutama dengan Kitab Wahyu, banyak guru-guru nubuatan ingin menjejalkan terlalu banyak rincian di mana ayat tidak secara langsung menyatakannya. Spekulasi ramalan seringkali menggantikan ketaatan dan pengajaran yang benar dari Firman Tuhan. Bukannya mendengarkan dan menaati ayat, kita memanfaatkan Alkiab untuk memuaskan keingintahuan kita akan masa depan. Dengan demikian berarti kita telah menambah-nambahi Kitab Suci (Why. 22:18).

Banyak orang mempermasalahkan agama karena terorisme. Tertulis pada papan porter yang muncul pada 12 September 2001 : “Tidak ada agama, tidak ada perang.” Papan protes itu memaksakan keyakinan, jika otoritas agama beserta ayat-ayat suci dilenyapkan, maka dunia akan jauh lebih baik dan lebih aman. Di dunia yang terobek oleh perpecahan serta kebencian, maka agama mana pun yang semakin menambah perpecahan atau memanaskan kebencian adalah bagian dari permasalahan, bukannya solusi. Tetapi akankah dilenyapkannya agama agar dunia ini tempat yang lebih aman, tempat yang lebih toleran ? Sejarah menjawab. Para arsitek Revolusi Perancis dan Komunisme Rusia, keduanya melihat tidak adanya toleransi orang-orang “Kristen” di Barat lalu mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan melenyapkan iman Kristen. Namun reaksi menentang agama cenderung menciptakan penolakan baru yang akan melahirkan lebih banyak kekerasan. Mengutip kata-kata Alksandr Solzhenitsyn : “Garis pemisah antara yang baik dan yang jahat tidak terletak di antara kita dan mereka tetapi di dalam hati setiap manusia.”

Saya percaya bahwa di dunia yang ngeri ini kita tidak membutuhkan iman yang kurang besar tetapi iman yang lebih baik. Kita tidak membutuhkan bimbingan rohani yang lebih banyak, kita membutuhkan bimbingan rohani yang lebih baik. Bukannya menolak “ayat-ayat suci,” tetapi kita bisa bersikap lebih rendah hati saat menghadapi Alkitab. Kebesaran Allah yang terpancar di dalam Alkitab memperingatkan kita agar tidak cenderung berpikir bahwa kita telah sepenuhnya memahami Allah dengan jelas.

Tuhan, bukakan mata dan mata hatiku terhadap keterbatasan-keterbatasan pemahamanku terhadap Engkau