“Dan orang-orang itu mendengar suatu suara yang nyaring dari sorga berkata kepada MEREKA [KEDUA SAKSI ALLAH]: ‘Naiklah ke mari!’ Lalu naiklah mereka ke langit, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka” (Wahyu 11 : 12).

Salah satu isu besar tentang penafsiran Kitab Wahyu adalah identitas kedua saksi Allah dalam pasal 11. Siapa pun mereka, mereka memiliki otoritas Ilahi, yaitu mereka “bernubuat” selam 1260 hari sambil berkabung (Why. 11:3). Kitab Suci juga menyebut mereka kedua nabi (ayat 10). Mereka menyampaikan pekabaran nubuatan bahwa Yohanes diminta untuk “bernubuat lagi” (Why. 10:11).

Dalam system peradilan Yahudi, sesuatu harus dikemukakan oleh dua orang saksi, barulah dapat diterima kebenaranya (Ul. 19:15). Itu adalah system yang bagus, karena kedua saksi itu harus menguraikan peritiwa secara terpisah sehingga keterangan mereka tidak bertentangan satu sama lain. Pengadilan tidak akan menerima jika hanya seorang saksi saja yang mengatakan ini dan itu. Jadi gambaran kedua saksi menyarankan bahwa pekabaran yang disampaikan serius dan benar (Why. 11:3).

Siapakah kedua saksi ini? Kitab Suci menggambarkan mereka sebagai kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian Bait Allah (ayat 4). Gambaran ini mengingatkan kita pada zaman Zerubabel, ketika bangsa Yahudi membangun kembali Bait Allah setelah pembuangan ke Babel (zak. 4). Jadi kedua saksi Allah adalah symbol kuasa Roh Kudus yang menerangi bumi melalui Firman Allah dan umat-Nya. Lebih jauh Yohanes menyoroti kedua saksi Allah ini sebagai Musa dan Elia ( Why. 11:5,6), yang mewakili Allah, meskipun banyak ditentang. Meskipun mereka menderita karena pekabaran itu, mereka bukannya tak berdaya.

Para penyelidik Kitab Wahyu selama berabad-abad menawarkan dua penjelasan utama tentang identitas kedua saksi Allah itu. Pertama, itu melambangkan Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (juga melanbangkan hukum [Musa] serta nabi [Elia] dari kanon Yahudi). Kitab-kitab Perjanjian Lama bersaksi tentang Yesus (Yoh. 5:39, 40; 19:35,37). Jadi konsep kedua saksi ini mungkin merupakan referensi pada Kitab Suci. Lalu terdapat bukti-bukti yang sama kuatnya untuk konsep kedua. Gambaran Bait Allah merujuk pada gereja, yang sering dipandang sebagai Bait Allah pada zaman Perjanjian Baru (1Kor. 3:17; 1Pet. 2:1-10). Gereja di bumi adalah terang bagi dunia (Mat. 5:14-16), karena bersaksi adalah tugas utama gereja (Luk. 24:48; Kis. 1:8).

Di dalam Wahyu, Yesus adalah saksi yang setia (Why. 1:5) dan juga Firman Allah (Why. 19:13). Jadi pilihannya adalah dua sisi mata uang yang sama. Entah yang mana, inti dari ayat ini adalah kekuatan pekabaran zaman akhir dari Allah untuk mengubah dunia meski dunia menghadapi pelawanan besar.

Tuhan, tolong aku untuk memfokuskan mataku pada misi yang telah Engkau sampaikan kepada gereja-Mu. Tolong aku untuk memakai Firman-Mu.