“Pada saat itu terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan sepersepuluh bagian dari kota itu rubuh, dan tujuh ribu orang mati oleh gempa bumi itu dan ORANG-ORANG LAIN SANGAT KETAKUTAN, LALU MEMULIAKAN ALLAH YANG DI SORGA” (Wahyu 11:13, 14).

Kata “orang-orang lain” dalam ayat ini mengantisipasi penggunaan kata yang sama dalam Wahyu 12:17. Saya percaya hal ini juga mengindikasaikan pekerjaan ke-144.000 orang dalam Wahyu 14. Izinkan saya menjelaskan baik umat yang sisa (Why. 12:17) dan ke-144.000 orang (Why. 14:1-5) adalah kelompok orang yang sama. Dan kedua konsep ini menggemakan Yoel 2:32, di mana umat yang sisa di Bukit Sion berseru memanggil nama Tuhan. Dalam Wahyu 14, ke-144.000 orang diwakili oleh malaikat yang menyatakan: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia” (Why. 14:7), nah, memang mungkin bahwa “orang lain” dalam ayat kita hari ini hanya sekedar “takut.” Namun saya pikir mereka menanggapi pekabaran dalam Wahyu 14:7. Umat yang sisa dalam Wahyu 11:13 takut kepada Allah dan memuliakan Dia, seperti yang diserukan oleh malaikat yang pertama.

Setidaknya ada tiga tipe rasa takut. Yang pertama adalah ketakutan terhadap kehancuran keuangan. Saya teringat tanggal 14 Maret 2000. Pada hari itu pasar uang di Amerika Serikat mencapai puncaknya yang monumental. Saham dan dana, naik ratusan persen dari posisi di tahun 1995. Namun pada 14 Maret itu, mulailah penurunan yang berlangsung tiga tahun, memangkas hingga setengah jumlah uang yang diinvestasikan di pasar saham. Sebuah majalah meratap, “Ucapkan selamat tinggal kepada semua spekulasi besar kapitalis serta para miliuner transaksi bisnis dan sabutlah para pengacara kebangkrutan, ahli-ahli perubahan haluan, serta para liquidator. Kabar baik, bukan dalam uang dan kepemilikan, tetapi didalam kerajaan Allah.

Jenis ketakutan yang kedua adalah kekhawatiran terhadap bahaya fisik. Prinsip hidup sehat dan mengemudi yang aman tidak menjamin bahwa gempa bumi, penyakit, kriminalitas, atau hal-hal lain, tidak akan melukai kita. Tetapi Allah telah berjanji menyertai kita saat kita “melewati lembah kekelaman” (Mzr. 23:4). Menyadari bahwa Dia memegang kendali akan memberi kita keyakinan untuk hidup menikmati setiap moment sebagai suatu anugrah-Nya.

Jenis ketakutan ketiga adalah rasa takut yang diilustrasikan dalam ayat hari ini. Itu adalah rasa takut terpenting yang membawa kita kepada Allah. Tuhan bisa memakai rasa takut alamiah kita untuk membawa kita agar menyadari hadirat-Nya serta hasrat untuk selalu bersama-Nya. Paulus berbicara tentang mengerjakan keselamatan kita dengan ‘takut dan gemetar” (Fil. 2;12). Rasa takut yang benar akan membawa kita bukan saja untuk mengakui hadirat-Nya, tetapi juga menuju pada rasa takjub dan hormat yang benar.

Tuhan, tolong aku untuk menghargai bahwa Engkau selalu mengawasiku. Aku ingin bertanggung jawab kepada-Mu dalam segala hal yang aku perbuat.