“Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring disorga, katanya: ‘Pemerintahan atas dunia dipengang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan ia akan memerintah sebagia raja sampai selama-lamanya.’ Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata: ‘KAMI MENGUCAP SYUKUR KEPADAMU, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja”’ (Wahyu 11:15-17).

Seorang ayah yang sangat kaya mengajak putranya berpergian ke desa untuk memperlihatkan kepada putranya betapa miskinnya orang-orang disana. Selama beberapa hari mereka di daerah yang dianggap sangat miskin itu. Sekembalinya dari perjalanan itu, sang ayah bertanya kepada putranya, “ Bagaimana perjalanan kemarin ?” Jawab putranya, “ Luar biasa, Ayah. ” “ kaulihat betapa miskin kehidupan orang-orang disana ?” tanya sang ayah lagi. “ Oh, ya, ” jawab putranya.
“Jadi,beritahu ayah, apa yang kaupelajari dari perjalanan kita?”
“Aku melihat bahwa kita punya satu anjing sedangkan mereka mempunyai empat,” jawab putranya. “ Kita punya kolam luasnya mencapai pertengahan taman, sedangkan mereka punya sungai kecil tak terbatas. Kita punya lampu-lampu impor di taman kita, sedangkan mereka punya bintang-bintang di malam hari. Beranda kita mencapai pekarangan depan, sedangkan beranda mereka hingga ke cakrawala. Kita punya para pelayan yang melayani kita, sedangkan mereka melayani orang-orang. Kita membeli makanan, tetapi mereka menanam makanan mereka. Kita punya tembok-tembok mengelilingi pekarangan untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya sahabat-sahabat untuk melindugi mereka.” Ayah itu terdiam. Lalu pun putranya menambahkan, “ Terima kasih, Ayah karena telah menunjukkan betapa miskinnya kita. ”

Dalam Wahyu 4:9 kita melihat ke-24 tua-tua tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan atas Penciptaan dan atas keselamatan yang Dia berikan. Dalam ayat kita hari ini, para tua-tua kembali meyembah dan mengucap syukur, namun kali ini objek ucapan syukur mereka jauh lebih spesifik. Mereka memuji Allah atas serangan-Nya di zaman akhir terhadap kerajaan dunia ini, dan karena menggantikan kerajaan itu dengan kerajaan-Nya, yang berdasar di dalam perbuatan besar Kristus. Saat kita sepenuhnya memahami apa yang Kristus telah lakukan bagi kita,hal itu akan mengubah sikap kita terhadap apa pun. Inilah salah satu fungsi utama Kitab Wahyu. Dengan mengangkat sudut pandang kita dari dunia kita yang kecil kepada keagungan alam semesta ciptaan Allah, kita pun sadar bahwa sudah sepatutnya kita bersyukur. Semua itu tergantung cara pandang Anda!

Tuhan, manakala aku tergoda untuk berpikir bahwa aku dianggap kurang mampu, ingatkan aku pada harta yang aku miliki di dalam Yesus Kristus.