“Dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datng dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, KEPADA ORANG-ORANG KECIL DAN ORANG-ORANG BESAR, dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi “ (Wahyu 11:18).

Mereka yang menghadapi kesedihan atau kesukaran di dunia ini dapat menghargai pekabaran yang disampaikan sangkakala ketujuh. Dunia ini milik Tuhan, dan Dia akan mengambil ahli dunia sepenuhnya pada saat yang tepat (Why. 11:15). Saat melakukannya, Dia akan membetulkan hal-hal yang tidak benar dalam sejarah (ayat 18). Ayat hari ini mengingatkan kita bahwa saat hari penghakiman itu tiba, Allah akan memberi upah kepada orang-orang kecil maupun orang-orang besar (ayat 18), sama seperti Dia akan menghukum orang-orang kecil maupun orang-orang besar (Why. 6:15).

Kesukaran masa lalu telah membentuk tradisi gereja kulit hitam Amerika Utara. Mereka yang mengalami penindasan dalam hidup sehari-hari sangat menanti-nantikan gereja, di mana tukang bersih-bersih akan menjadi diaken, dan penyapu jalan menjadi pengkhotbah. Tradisi gereja kulit hitam menuruti pola Perjanjian Baru, dimana budak-budak bisa naik pangkat menjadi panatua. Tidak ada batasan saat Allah beserta Anda.

Rosa Park letih setelah sehari penuh bekerja sebagai penjahit di Montgomery, Alabama. Perhentian bus penuh sesak, jadi dia berjalan menuju apotek untuk membeli bantal panas, berpikir dia bisa mendapat tempat duduk jika menuggu sebentar. Kemudian dia membayar ongkos bus jurusan Cleveland Avenue, sebesar 10 sen, dan mendapat tempat duduk di baris pertama bus di bagian “kulit berwarna.” Namun setelah melewati beberapa pemberhentian, sopir memerintahkan agar dia berdiri supaya seorang penumpang kulit putih bisa duduk. Saat Park menolak, sopir mengadukan dia ke polisi dan menggiringnya ke penjara. Dua jam setelah ditangkap, dia dibebaskan dengan jaminan sebesar 100 dolar. Menjelang tengah malam para pemimpin kulit hitam merencanakan memboikot bus kota. Seorang pendeta Baptis muda bernama Martin Luther King.Jr, menjadi pemimpinnya. Aksi boikot itu berlangsung selama 381 hari, hingga Mahkamah Agung memerintahkan bahwa pemisahan tempat duduk di dalam bus adalah upaya ilegal. Keberhasilan boikot tersebut memicu gerakan hak asasi modern. “Saat saya menolak untuk menyerahkan tempat duduk saya, itu bukan sekedar masalah dalam bus, “ dijelaskan Park berikutnya . “Saya hanya ingin bebas, sebagaimana orang lain.”

“Jadi kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat.6:10). Kita tidak perlu menanti hingga kerajaan surga datang untuk memperlakukan orang-orang menurut cara surgawi.

Tuhan, banyak ketidakadilan yang Engkau lihat terjadi di duniaku dan di komunitasku. Tolong aku untuk menjadi perantara perubahan hari ini.