“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya. Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah PENDAKWA SAUDARA-SAUDARA KITA, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan MEREKA MENGALAHKAN DIA oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” (Wahyu 12:7-11).

Luasnya alam semesta seperti yang sudah diketahui orang sungguh membingungkan. Walaupun Planet Bumi tempat yang besar, planet itu masih kecil dibandingkan planet-planet lain yang mengitari tata bintang. Sistem tata surya kita berlokasi di tepi sebuah galaksi yang teramat besar, setidaknya terdiri 100 juta bintang, banyak di antaranya memiliki sistem tata surya sendiri. Sekarang kita tahu , miliaran galaksi di alam semesta yang sudah kita kenal. Ini berarti, apakah kita ini sangat penting, ataukah tidak penting sama sekali.

Ketika Anda melihat betapa mudahnya planet kita ini hilang di tengah-tengah alam semesta yang tak terbatas, mungkin anda mulai berpikir bahwa kita kurang penting. Tapi saat Anda membaca Wahyu 12, Anda akan memperoleh kesan yang berbeda. Anda mulai menyadari bahwa apa yang sedang berlangsung di bumi ini mungkin berdampak jauh lebih penting terhadap alam semesta dibandingkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat lain.

Wahyu 12:4 mengatakan bahwa naga itu melemparkan sepertiga bintang-bintang di langit. Dalam kisah bergaya simbolik seperti ini, jelas bahwa itu bukanlah bintang-bintang atau galaksi secara harfiah. Wahyu 1:20 menafsirkan bintang sebagai malaikat, dengan demikian berarti naga (Setan) memicu suatu konflik di surga (sebagai pusat kendali alam semesta) yang mengakibatkan sepertiga penghuni surga dilemparkan ke bumi ini. Jadi planet kita telah menjadi tempat tujuan pemberontakan yang terjadi lama berselang di surga.

Inilah jawaban akhir untuk permasalah kejahatan, kesengsaraan, dan penderitaan di bumi ini. Tidak diragukan bahwa malaikat-malaikat yang tetap tinggal di surga bertanya-tanya apakah ada sisi baik dari pemberontakan Setan. Salib menjawab semua keragu-raguan itu. Allah yang bersedia mati bagi ciptaan-Nya bisa dipercaya untuk melakukan yang benar dan adil. Walaupun Setan punya akses ke takhta surgawi sebelum penyaliban (Ayub 1 dan 2), tetapi dia telah dilemparkan dari surga sejak saat itu (Why. 12:10,11).

Tuhan, aku melihat keindahan karakter-Mu di kayu salib. Aku memutuskan untuk setia kepada-Mu, tidak peduli berapa harga yang harus kubayar.