“Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: ‘… telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita….’ Dan mereka MENGALAHKAN DIA OLEH DARAH ANAK DOMBA dan oleh perkataan kesaksian mereka” (Wahyu 12:10,11).

Darah Anak Domba telah tercurah di Taman Getsemani. Darah bertetesan ke tanah (Luk. 22:44) saat Yesus berjuang untuk menyelaraskan kehendak-Nya dengan Bapa-Nya ( Mat. 26: 39; Mrk. 14:36; Luk. 22:42). Akar pemberontakkan manusia terjadi di taman yang pertama. Di Taman eden, Adam dan Hawa menolak kehendak Allah dan mempertahankan kehendak mereka sendiri (Kej. 3:1-6). Saat Kristus memenangkan peperangan di taman yang lain, kemenangan-Nya itu adalah kemenangan seluruh umat manusia.

Saya tidak tau bagaimana dengan Anda, tapi saya menghadapi peperangan kehendak setiap hari. Walaupun saya tidak perlu berperang melawan alkohol, tembakau, obat-obat terlarang, sering saya bergumul dengan kecanduan yang lebih “Kristiani.” Saya membiarkan diri saya marah saat keadaan berjalan tidak sesuai keinginan saya. Saya membiarkan pikiran-pikiran negatif bercokol dalam benak saya. Pergumulan untuk mengendalikan pemikiran dan tindakan saya sering terasa berat.

Belum lama berselang , untuk alasan kesehatan saya bersumpah untuk tidak makan apa-apa di malam hari kecuali buah-buahan. Namun saya segera sadar bahwa banyak hal dapat “mengelincirkan” kehendak ini. Istri atau putri saya membuat hidangan lezat di malam hari, dan saya begitu ingin mencicipi! Mungkin tempat kerja atau gereja mengadakan acara sosial. Atau hari Natal! Daftar masih panjang. Lemahnya kehendak sangat jauh berakar ke dalam kondisi manusia setelah kejatuhan manusia di Taman Eden.

Jalan menuju kemenangan tetaplah sama. Mustahil kita menang atas dosa kecuali kita benar-benar meresapi kemenangan Yesus di kayu salib. Yesus telah sepenuhnya menanggung semua dosa dan kegagalan kita di kayu salib (1 Ptr. 2:24). Saat kita sadar bahwa Dia telah menghapus catatan kegagalan kita dengan Diri-Nya, barulah kita bisa mulai menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah dan mematahkan belenggu masa lalu. Baru saat itulah kita dimerdekakan dari masa lalu untuk menjadi merdeka saat ini.

Menurut pengalaman saya, kemenangan ini terjadi dalam dua tahap. Yang pertama, kita perlu meresapi kebenaran Wahyu 12:11. Salib telah memenangkan peperangan. Yang kedua, dibutuhkan waktu bagi orang-orang yang terluka dan teraniyaya untuk merasakan apa yang sudah mereka ketahui. Emosi bukan patokan. Jangan berharap perasaan Anda berubah secara instan karena Anda telah membaca ini. Anda perlu meresapi kebenaran salib berkali-kali sebelum perasaan Anda mengakui kemenagan itu.

Tuhan, hari ini aku menerima kehendak-Mu, tak peduli bagaimana perasaanku. Aku mengundang-Mu untuk menyelaraskan seluruh keberadaanku sesuai dengan kehendak-Mu.