“Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh PERKATAAN KESAKSIAN MEREKA. Karena tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11).

Kitab Wahyu menghubungkan kata “kesaksian” dengan Yesus. “Kesaksian Yesus” adalah penglihatan yang Yohanes dapatkan (Why. 1:2). Itulah alasan mengapa sang nabi ada di Patmos (ayat 9). Sebagai “harta milik” dari umat zaman akhir (Why. 12:17), kesaksian itu adalah roh yang mengilhami nubuatan (Why. 19:10). Dan itu adalah kekuatan pendorong yang menyemangati para martir (Why. 20:4). Yesus menawarkan kesaksian –Nya kepada jemaat-jemaat (Why. 20:16).

Tapi kata “kesaksian” bisa juga dihubungkan dengan orang-orang percaya. Jiwa-jiwa di bawah mezbah, mati martir demi kesaksian mereka (Why.6:9). Dua saksi Allah memberikan kesaksian sebelum mereka mati (Why. 11:17). Dan para pemenang dapat menang karena perkataan kesaksian mereka (Why. 12:11). Kita mungkin lemah dan tidak sempurna, tetapi kesaksian kita meneladani kesaksian-Nya. Begitu kita sesuatu tentang Yesus, kita mulai memberitakan kepada orang-orang tentang Dia.

Seperti seorang buta menuntun orang buta saja! Seorang kawan saya, Jim Park, pada suatu hari mengunjungi Katedral Santo Paulus di London. Setelah berkeliling melihat-lihat, dia harus kembali ke stasiun kereta api Waterloo pada jam sibuk. Seorang pemandu di katerdral menyarankan dia naik bus, bukannya kereta bawah tanah, dan kedengarannya usul itu menarik. Dia naik bus dan menikmati perjalanan selama 20 menit. Setelah bus beberapa kali berhenti, seorang pria buta necis naik ke bus dan duduk dekat Jim. Keduanya berkenalan, dan Jim baru tau bahwa Roger bekerja di sebuah rumah produksi musik dan dalam perjalanan pulang. Karena pria buta itu tidak terbiasa mengambil rute khusus ini ke stasiun Waterloo, dia meminta Jim untuk memandunya ke sana. Dengan malu-malu Jim menggumam tentang ketidakpastiaanya, namun akan berusaha menolong. Untungnya, ada pria ketiga yang memandu mereka turun dari bus memasuki stasiun. Roger katakan, dia bisa naik sendiri ke atas kereta, namun Jim tetap mengantarkannya. Entah bagaimana, mereka dapat bergegas dengan cepat dalam waktu singkat, dan Roger berhasil naik kereta tepat saat kereta itu meninggalkan stasiun.

Allah tentu saja tahu ke mana Dia pergi dan ke mana Dia ingin kita pergi. Adalah bijaksana jika kita berkonsultasi dengan Dia di setiap kelokan dan menyerahkan rencan kita kepada –Nya. Namun saat kita belajar lebih banyak tentang kehendak dan jalan-jalan-Nya, kita pun menjadi mata dan telinga –Nya di bumi ini. Sebagai hasilnya, kita memperoleh hak istimewah menjadi saksi-saksi-Nya di bumi. Dengan demikian, kita menjadi semakin serupa dengan Dia.

Tuhan, terima kasih karena telah menunjukkan jalan kepadaku. Hari ini aku ingin menjadi “pemandu tur” bagi sesamaku.