“Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11).

Tidak ada aspek pengalaman manusia yang membangkitkan energi lebih cepat ketimbang kemungkinan menghadapi kematian segera. Pria yang sedang tenggelam berjuang sekuat tenaga menjaga kepalanya tetap berada di atas air. Seorang wanita yang terpeleset dari tebing dengan panik bergelantungan pada ranting di bebatuan dekat puncak tebing. Namun demikian, upaya terbaik kita masih belum cukup. Walau kadang kita bisa menunda kematian, keputusan terakhir hanya dapat dibatalkan dalam generasi akhir bumi. Sebelum tiba saat itu, harapan kita adalah sepenuhnya memercayai kuasa Allah yang menyelamatkan kita, bahkan melampaui kematian.

Oleh karena itu, ayat hari ini mengatakan bahwa mereka yang menang berbuat demikian dengan mengandalkan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Mereka melatakkan hidup mereka di tangan-Nya, dan mengandalkan kuasa-Nya untuk melaksanakan hal-hal yang akan mustahil dengan kekuatan mereka sendiri. Contoh zaman modern akan hal ini terjadi di awal gerakan “12 Langkah” pada tahun 1930-an.

Bill Wilson seorang pialang saham yang tinggal di Brooklyn, New York, dan menghadapi masalah serius dengan alkohol. Dia melawan keinginan untuk minum dengan berkonsultasi pada mereka yang memahami pergumulannya. Lalu di stasiun Akron, dia meninggalkan bar dan mulai mencari gereja. Lewat sebuah kelompok gereja setempat dia bertemu ahli bedah Robert Holbrook Smith. Selanjutnya Dr. Robert dan Bill, sebagai anggota Alcoholics Anonymous, berjanji untuk saling menjaga satu sama lain agar tetap sadar. Bill mengembangkan sebuah strategi : Sebuah langkah penanggulangan kecanduan yang belakangan disempurnakan menjadi “12 Langkah.” Menurut Bill, para pecandu alkohol harus mengakui ketidakberdayaan mereka menghadapi kecanduan. Selanjutnya, tanpa rasa takut mereka harus memerangi kelemahan karakter mereka. Dan terutama, mereka harus tunduk kepada Allah yang akan memberikan kekuatan yang tidak mereka miliki.

Nasihat itu tidak segera dilaksanakan. Dr. Robert pergi ke Atlantic City, New Jersey, menghadiri pertemuan. Beberapa hari kemudian dia muncul di stasiun kereta api Akron, dalam kondisi mabuk berat. Pada tanggal 10 Juni 1935, dokter yang sedang menjalani rehabilitasi kecanduan, namun masih agak gugup akan melakukan pembedahan. Pagi itu Bill memberi Dr. Robert sebotol bir untuk memantapkan tangannya yang memegang pisau bedah. Tapi bir itu adalah bir terakhir yang diminum Dr. Robert. Akhirnya kedua pria itu berjanji untuk menerapkan prinsip-prinsip Bill pada pecandu alkohol lainnya, sedikit demi sedikit.

Tuhan, hari ini aku meletakkan hidupku dalam kendali-Mu. Aku membutuhkan kekuatan yang hanya Engkau yang sanggup berikan.