“Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, CELAKALAH KAMU, HAI BUMI DAN LAUT! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat. Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia MEMBURU PEREMPUAN yang melahirkan Anak laki-laki itu. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.” (Wahyu 12:12-14).

Para komentator memahami perempuan dalam ayat ini melambangkan pengalaman gereja sepanjang tahun-tahun panjang antara zaman Yesus dengan zaman akhir. Penganiayaan berat menimpa mereka yang membawa nama Yesus. Penderitaan seperti ini sangat kontras dengan pernyataan kemenangan serta kuasa di dalam Wahyu 5. Bagaimana menghubungkan penderitaan Kristen dengan kemenangan Allah, menjadi sesuatu yang menantang.

Tidak seorang pun memperhatikan asap menyelinap keluar dari jendela truk sewaan saat Timothy McVeigh mengemudikan truk tersebut memasuki Gedung Federal Alfred P. Murrah pada pagi hari yang kelabu itu. McVeigh telah menyalakan dua sumbu bom seberat 7.000 pon di dalam truk lalu parkir di samping tempat penitipan anak. Ledakan itu membakar bagian depan gedung, meninggalkan sayatan melintang kabel-kabel serta asap menganga lebar. Total korban diperkirakan 168 orang, termasuk 19 anak-anak. Setidaknya, enam di antara mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka kasihi saat itu jadi bunuh diri. Ketika McVeigh dihukum mati tahun 2001, dia tetap yakin bahwa dia telah menghukum pemerintah Amerika Serikat atas penggerebekan tahun 1993 terhadap sekte Ranting Daud yang bermarkas dekat Waco, Texas.

Bagi Amerika, pemboman itu merupakan “perkenalan” terhadap terorisme yang memakan korban besar. Musuh bukan lagi peleton berseragam namun para ekstremis penyendiri di tengah-tengah kita. Mereka tidak mudah dicari atau dipahami…Tapi kenang-kenangan terhadap tragedi tersebut memperlihatkan bahwa kota-kota yang telah dibuat trauma bisa bersatu untuk melindungi diri terhadap kejahatan yang tak terbayangkan.

Walaupun mungkin ini hanya sedikit menghibur mereka yang mengalami kehilangan atau penderitaan, namun bagi Allah tidak ada yang tersia-sia. Di dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, bahkan tragedi terbesar pun dapat menjadi pondasi untuk kesembuhan dan pemulihan. Walaupun orang-orang yang terluka seringkali melukai orang-orang, tapi banyak korban tragedi menemukan kekuatan di dalam Tuhan yang menjadi penyembuh, bukannya penyebab penderitaan.

Tuhan, tolong aku untuk mengesampingkan kepahitan dan pembalasan dendam. Biarlah aku menjadi sumber pemulihan, bukannya penderitaan.