“LALU ULAR ITU MENYEMBURKAN DARI MULUTNYA AIR, SEBESAR SUNGAI, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sunga itu” (Wahyu 12:15).

Mulut ular mengingatkan para pembaca pada godaan di Taman Eden. Walaupun Iblis tentu saja berusaha menghambat gereja secara paksa, senjatanya yang paling efektif tentu saja adalah tipu daya. Serangan dan godaan datang dari berbagai arah yang tak terduga.

Bom meledak tidak lama setelah tengah hari dan menggoncang seluruh gedung bak gempa bumi. Ruang kerja Cantor Fitzgerald di menara utara World Trade Center di New York menjadi gelap. Tidak seorang pun tahu apa yang terjadi, namun dalam waktu beberapa menit, 700 karyawan dengan tenang bergerak menuju tangga. Segera anak tangga itu macet saat 20.000 pekerja di lantai bawah juga mengevakuasi pada siang hari di bulan Februari yang dingin itu, tetapi orang-orang Cantor Fitzgerald tidak panik. Sebagian mereka mengikatkan dasi dan ikat pinggang mereka ke kursi-kursi roda orang-orang cacat dan menggotong mereka menuruni 105 anak tangga. Yang lainnya menolong mereka yang mengalami kesulitan berjalan hingga regu pemadam kebakaran mengambil alih lantai kedua puluh lima. Semua orang berhasil diselamatkan.

Ketika itu tahun 1993, dan sebuah bom teroris meledak di dalam mobil di tempat parkir bawah tanah Trade Center. Enam orang tewas dalam ledakan itu, dan bnayak orang beranggapan pemboman tersebut merupakan peringatan agar lebih siap lain kali. Cantor Fitzgerald serta para penyewa World Trade Center lainnya menanamkan investasi besar untuk melindungi diri mereka terhadap insiden-insiden lain di masa depan. Di antara peningkatan fasilitas keamanan lainnya, pihak World Trade Center membangun tangga untuk memudahkan pasukan pemadam kebakaran dan polisi memasuki gedung. Keamanan di tingkat dasar dan tingkat paling bawah diperketat.

Memang peningkatan keamanan telah menyelamatkan jiwa-jiwa pada tanggal 11 September 2001, namun tragisnya, pihak World Trade Center membangun rencana pertahanannya terutama untuk menghadapi strategi-strategi masa lalu. Tidak seorang pun sepenuhnya dapat meramalkan kengerian dan kehancuran yang akan terjadi. Cantor Fitzgerald kehilangan semua orang, 658 karyawan tewas saat pesawat pertama menabrak menara utara, membuat mereka terjebak tanpa harapan untuk dapat menyelamatkan diri. Bagi mereka, rencana pemulihan dari bencana tidak berarti apa-apa.

Sama seperti halnya teroris selalu mencari-cari target yang tidak siap bertahan, Setan juga mempelajari kita dengan seksama, mencari-cari titik lemah kita. Dengan kekuatan dan hikmat kita sendiri, maka kita sama tak berdaya sebagaimana para penghuni World Trade Center.

Tuhan, tolong aku untuk mengizinkan Engkau menjadi pertahananku dalam melawan godaan hari ini.