“Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, KE ARAH PEREMPUAN ITU, supaya ia dihanyutkan sungai itu” (Wahyu 12:15).

Saya percaya bahwa perempuan dalam ayat ini melambangkan umat Allah sepanjang abad Kekristenan yang telah menderita penindasan di tangan totaliter yang kejam. Penderitaan pada saat itu biasanya tak dapat dimengerti. Mustahil menjelaskan mengapa Allah mengizinkan penderitaan terjadi.

Yang dilakukan oleh Wahyu 12 adalah menyingkapkan tirai dan memperlihatkan kepada kita konteks yang lebih luas atas penderitaan orang-orang Kristen. Peperangan hebat terjadi di alam semesta, peperangan yang dimulai di surga (Why. 12:3,4) dan mencapai klimaksnya setelah kematian Yesus di kayu salib (ayat 7-12). Peperangan yang kita hadapi dari hari ke hari merupakan bagian kecil dari konflik besar itu. Mungkin mustahil untuk dapat melihat bagaimana pengalaman kita adalah bagian dari keseluruhan rencana Allah. Namun Kitab Wahyu mengingatkan kita, saat hal buruk menimpa umat-Nya, itu dikarenakan murka supraalami yang mesti terjadi saat ini, yang suatu hari nanti akan dihancurkan untuk selama-lamanya (Why. 20:7-15). Jadi kitaharus sabar dan memercayai Allah, tidak peduli apa yang terjadi. Keadilan akan datang, tetapi itu tidak akan terjadi sebelum melewati pencobaan-pencobaan serius. Bila kita menuntut penjelasan atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, maka kita bukan hanya akan kehilangan iman kepada Allah, tetapi mungkin juga kehilangan kewarasan kita. Kita harus puas, bahwa dalam kehidupan ini, kitahanya “tahu sebagian saja” (1 Kor. 13:9).

Ini mengingatkan saya pada kisah tentang kelereng yang hilang. Seroang pria dihukum kurungan dalam sel gelap dan hanya punya satu hal untuk mengisi pikirannya—sebuah kelereng, yang dilemparkannya berulangkali ke dinding sebagai mainannya yang berharga. Suatu hari tahanan itu melemparkan kelerengnya ke atas, tetapi tidak pernah kembali ke bawah. Hanya keheningan menggema dalam gelap. Raibnya kelereng itu sangat mengganggu pikirannya. Akhirnya diajadi gila, mencabuti seluruh rambutnya, lalu mati. Saat sipir penjara datang menyingkirkan mayatnya, penjaga itu mleihat sesuatu tersangkut pada sarang laba-laba besar di sudut atas ruangan. Aneh, pikirnya, bagaimana bisa sebuah kelereng sampai tersangkut di situ.

Terkadang pengalaman kita menyebabkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu kitajawab. Tapi jawaban yang absah selalu ada. Jika menyangkut hal-hal yang kita derita, adalah bijaksana untuk tidak berharap agar semua dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan persepsi kita yang terbatas. Hanya Allah yang tahu gambaran keseluruhannya. Salib mengatakan kepada kita bahwa kitabisa memercayai Dia.

Tuhan, aku memercayai Dia yang telah mati bagiku. Beri aku ketahanan sekalipun aku tidak mengerti.