“Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan MENELAN SUNGAI yang disemburkan naga itu dari mulutnya” (Wahyu 12:15,16).

Kitab Wahyu menggunakan lmabng air dalam tiga cara : Air dapat melambangkan (1) pemeliharaan; (2) penyucian; dan (3) banjir, atau kekuatan destruktif. Gambaran aliran bear air yang ditelah bumi bukan sesuatu yang tak dikenal dalam geografi. Hla ini terajdi di Gurun Kalahari di Afrika bagian selatan. Tempat itu laus bernama Delta Okavango. Ada sungai beasr yang mengalir ke padang gurun paling kering di dunia. Aliran air terbelah dua menjadi delta, tetapi tanah begitu kering sehingga saat air mengalir maka aliran air itu menghilang di padang gurun. Tanah itu tetap kering kerontang.

Mulut ular tampaknya sebuah referensi dusta si ular di Taman Eden. Jika memang itu kasusnya, air yang membanjir di sini meungkin berarti perkataan penuh tipu daya, selain juga penganiayaan. Air yang membanjir bisa diartikan sebagai tipu daya dan juga ancaman. Setan punya dua metode utama untuk menjauhkan orang-orang dari Tuhan : (1) tipu daya dan bujuk rayu di satu pihak, dan (2) kekuatan, ancaman, serta penganiayaan di lain pihak.

Sungai yang membanjir dan naga bersayap, sebenarnya merupakan gambaran-gambaran yang memiliki persamaan dalam dunia zaman purba. Dilihat dari atas, kebanyakan sungai tampak seperti ular, berkelok-kelok dari hulu ke hilir. Sekarang bayangkan bahwa tepian sungai itu telah merebak. Dari sudut pandang yang tepat, sungai yang sama itu mungkin tampak serpti ular bersayap. Mungkin ini yang mendasari konsep di balik gagasan kuno tentang naga. Dalam kasus itu, para pembaca atau pendengar zaman purba akan menyaksikan aliran air yang membanjir sebagai cara yang wajar bagi si naga untuk menyerang wanita dalam kisah di atas.

Banyak sarjana Alkitab percaya bahwa adegan ini perihal situasi Eropa pada abad pertengahan. Para pengikut Tuhan yang setia, seperti kaum Waldensis di Italia utara dan Perancis selatan, menyalin dan mempelajari Kitab Suci. Sering mereka menghadapi ancaman serta penghancuran oleh balatentara yang dikirim gereja Kristen yang dominan. Penyebaran Kitab Suci ini mengakibatkan ancaman yang terlalu besar terhadap sistem kepercayaan yang sudah ada.

Pada hari-hari terakhir sejarah bumi, doa menjadi perlindungan vital saat umat Allah berada di bawah tekanan. “Sebab itu hendaklah setiap orang yang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak” (Mzm. 32:6-7).

Tuhan, aku tahu bahwa aku tidak bertekun dalam doa sebagaimana seharusnya. Kuatkanlah hatiku.