Dan ia diperkenankan untuk BERPERANG MELAWAN ORANG-ORANG KUDUS dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa” (Wahyu 13:7).

Ingatkah Anda hari-hari musim panas yang panjang dan gerah saat Anda masih kecil ? Saya tumbuh besar di Little Ferry, New Jersey, sebuah komunitas terpencil yang terletak kurang dari 10 mil dari Times Square, New York City. Musim-musim panas saya habiskan bersama teman-teman, bermain board games dan berenang di hari yang panas, serta bermain stickball dan waffle ball saat temperatur lebih kondusif untuk kami bermain di luar rumah.

Bagian musim panas yang tidak saya sukai adalah kebosanan. Saat sendirian saya tidak pernah bosan, karena saya menemukan senangnya membaca dan seringkali mengalami saat-saat menyenangkan dengan mereka-reka permainan khayalan saya sendiri. Masalahnya adalah saat saya sedang bersama anak-anak lain.

“Mari kita main waffle ball.”
“Aku tidak kepingin.”
“Bagaimana dengan permainan risk ?”
“Aku sedang tidak ingin.”
“Lalu engkau ingin apa ?”
“Aku tidak tahu, aku bosan.”

Permasalahannya adalah : Jika saya wajib bersama-sama dengan teman-teman saat mereka merasa bosan, maka bisa dipastikan saya pun merasa bosan. Dewasa ini, kebosanan harus dihindari dengan segala macam cara. Tidak seorang pun menginginkan keberadaan yang monoton. Kapan terakhir kalinya Anda mendengar “kebosanan” dipuji-puji sebagai bagian penting dari liburan yang “mengasyikan?”

Menurut Kitab Wahyu, kehidupan Kristiani tidak pernah membosankan. Di satu pihak, kita memiliki kegairahan pertumbuhan Kristiani, membagikan Injil, dan menyaksikan apa yang selanjutnya akan diperbuat Roh Kudus dalam kehidupan kita. Di lain pihak, kegairahan Kristiani mencakup peperangan melawan dosa dan Setan, serta kesadaran bahwa iman kita akan membangkitkan perlawanan. Kehidupan Kristiani kadang diistilahkan sebagai “peperangan dan berbaris.”

Namun kegairahan Wahyu tidak selalu konstan. Kemonotonan dan rutinitas adalah unsur-unsur yang merendahkan kehidupan Kristiani. Camkan bahwa Yesus menghabiskan 30 tahun pertama masa hidupnya dengan bekerja keras sebagai tukang kayu tak dikenal di sebuah desa kecil di Israel bagian utara. “Kemonotonan” dari keberadaan-Nya memberi-Nya waktu untuk menancapkan “akar-Nya” dalam-dalam di dalam hikmat dan kasih Allah. Perpaduan yang sehat dari kegairahan dan kemonotonan adalah inti keberadaan seorang Kristen.

Tuhan, apa pun yang terjadi hari ini, pakailah itu membangun karakterku.