“Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari ANAK DOMBA YANG TELAH DISEMBELIH” (Wahyu 13:8).

Gambaran ini tidak pernah berhenti membuat saya takjub. Anak Domba, begitu tak berdosa, mati bagi mereka yang menyembelih-Nya. Dia menyerahkan nyawa-Nya bagi orang-orang yang mencabut nyawa-Nya. “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Belum lama berselang, sebuah skenario serupa terulang kembali.

Pada malam tanggal 22 Desember 2003, seorang penyusup masuk ke rumah kediaman Ruimar DePaiva, seorang pendeta di Negara Pulau Palau. Semula perampok itu berniat untuk mencuri, tetapi karena seluruh anggota keluarga terbangun, pria itu menyerang mereka hingga semuanya tewas kecuali Melissa yang berumur 10 tahun. Setelah menyiksa Melissa selama 20 jam, pria itu membebaskannya, dan Melissa melapor ke polisi. Tidak lama kemudian pihak berwenang menangkap pria itu dan menjebloskannya ke dalam penjara. Perbuatan pria itu membuat seluruh negeri terpana, dan pemerintah memerintahkan agar bendera Negara diturunkan di mana-mana. Pemakaman kenegaraan diselenggarakan, dipimpin pemimpin tertinggi Pulau itu.

Pada upacara pemakaman, ibunda Ruimar DePaiva mengambil alih mikrofon tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia telah mengunjungi penjara tempat si pembunuh, Justin Hirosi, ditahan. Berdoa bersama pria yang telah membunuh putra, menantu, dan cucu lelakinya, dia meyakinkan Hirosi bahwa dia mengampuninya. Lalu, saat tahu bahwa ibunda Hirosi juga hadir pada pemakaman itu, dia meminta Nyonya Hirosi bergabung bersamanya ke depan. Setelah memeluk Nyonya Hirosi seperti seorang kawan lama, dia mengumumkan kepada khalayak bahwa mereka adalah “dua orang ibu yang berduka karena kehilangan putra-putra mereka.”

Lalu dia memohon agar masyarakat tidak menimpakan kesalahan pada diri ibunda Hiroshi maupun keluarganya. Mereka yang hadir dalam upacara pemakaman itu dikejutkan lebih jauh dengan pemberitahuan dari pemimpin tertinggi, bahwa keluarga Hiroshi, dengan segala kekurangan mereka, telah menjual sebagian besar harta milik mereka dan berniat untuk menyumbangkan uang tunai sebesar 10.000 dolar untuk menjamin biaya pendidikan Mellissa. Namun saat-saat terindah masih belum tiba.

Saat ditanya di mana dia ingin tinggal, Melissa mengatakan, “Saya ingin tinggal di Palau sini.” Neneknya menjelaskan kepadanya bahwa itu mustahil.

“Baiklah,”jawab gadis itu. “Tapi suatu hari nanti aku akan kembali. Aku akan kembali sebagai missionaris!”

Tuhan, tolong aku untuk belajar makna sepenuhnya pengampunan-Mu, supaya aku dapat mengampuni sesamaku sebagaimana Engkau mengampuni aku.