“Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar ! Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting disini ialah KETABAHAN dan iman orang-orang kudus” (Wahyu 13:9,10).

Kata “ketabahan” di sini secara harfiah berarti “tetap berada di bawah.” Kata itu menggambArkan seseorang yang tertahan selama beberapa waktu di bawah beban atau kesukaran yang berat. Orang tersebut berada dalam posisi dapat menghindar dari beban namun memilih untuk tidak melakukannya dikarenakan tujuan yang jauh lebih mulia dari pada hanya menghindar dari maslaah. Para penerjemah seringkali menyajikan kata itu sebagai “bertahan dalam kesabaran.” Kesabaran berarti bertahan untuk jangka waktu yang lama, sekalipun untuk jangka pendek rasanya tidak begitu menyenangkan. Dalam Wahyu 13:10, orang-orang kudus rela mengalami pembuangan dan kematian dikarenakan hati dan pikiran mereka telah berada di surga.

Menanti sesuatu yang selama ini Anda doakan, menuntut kesabaran. Dan agaknya tidak masuk akal dalam jalan pikiran seorang Kristen. Mengapa di butuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bagi Allah untuk mencarikan Anda pekerjaan sementara Dia hanya memerlukan waktu tujuh hari untuk menciptakan dunia? Mengapa orang-orang harus kelaparan sementara Yesus memberi makan 5.000 orang dalam waktu sekejap? Mengapa dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk disembuhkan dari suatu penyakit sementara Yesus membangkitkan Lazarus hanya dengan satu perkataan? Apakah maksudnya bertahan dengan sabar?

Satu alasan mengapa Allah meminta kita untuk melakukannya dikarenakan menunggu adalah alat yang luar biasa untuk pertumbuhan pribadi. Dalam Roma 5:3-4, Paulus mengatakan kepada kita bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan (kata yang sama dengan kata dalam Wahyu 13:10) dan ketekunan menciptakan karakter. Jadi kesabaran bukanlah suatu opsi bagi orang-orang Kristen. Di masa-masa penantian seperti itu, Allah menyatakan rencana dan tujuan-Nya bagi kita dengan cara yang mungkin tidak akan kita pahami ditengah hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari. “Tetap berada di bawah” mengembangkan kekuatan karakter di dalam diri kita.

Tampaknya, jika Anda menonton televisi Amerika atau film-film Hollywood, cara Amerika adalah suatu bentuk pemuasan instan. Namun solusi yang mudah dan cepat tidak selalu bermanfaat untuk jangka panjang dan tidak menghasilkan pertumbuhan jangka panjang. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk dapat bertahan dalam pencobaan zaman akhir. “Tetap berada di bawah” tidak pernah menyenangkan, tetapi itu jauh lebih mudah jika Anda mengarahkan pandangan pada hal-hal yang di atas!

Tuhan, terima kasih atas penglihatan Wahyu_Mu. Semoga kesabaranku dalam perkara-perkara kecil sekarang mendatangkan kekuatan karakter untuk bertahan dalam perkara-perkara besar yang menanti di hadapanku.