Dan aku melihat SEEKOR BINATANG LAIN KELUAR DARI DALAM BUMI dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor singa” (Wahyu 13:11).

Karakteristik yang menarik dari Kitab Wahyu di bagian ini adalah bahwa binatang-binatang terus bermunculan, satu demi satu. Binatang yang keluar dari dalam laut (Why. 13:1-10) begitu menyerupai naga dalam pasal 12, Di lain pihak, binatang yang keluar dari dalam bumi, tampak sangat berbeda. Namun ketiga binatang ini memiliki satu persamaan—mereka berlaku sangat buruk. Suatu tuntutan serius terhadap umat manusia adalah bahwa kita belajar sangat sedikit dari satu gerenasi ke generasi berikutnya.

Seorang gadis Austria cantik berambut pirang berusia 13 tahun naik ke kereta dan mengucapkan selamat tinggal kepada orangtuanya. Lima puluh tahun kemudian dia terbaring di rumah sakit menderita tekanan darah tinggi. Dokter tidak menemukan penyebab masalahnya. Karena dalam keluarganya tidak ada sejarah penyakit itu, para dokter mengawasinya dengan saksama.

Gadis itu memberitahu pendeta bahwa dia seorang yang berhasil lolos dari Holocaust. “Saya tidak banyak membicarakan tentang itu—maksud saya, saya tidak membicarakannya. Tetapi akhir-akhir ini saya memulai…orangtua saya terbunuh di Auschwitz. Saya baru berumur 13 tahun. Mereka menyuruh saya naik kereta ke Belanda. Dari sana saya pergi ke Inggris. Saya tidak pernah melihat mereka lagi. Saya selalu merasa bersalah karena telah meninggalkan mereka di sana sehingga mereka tewas.”

“Anda merasa bersalah?” Tanya pendeta
“Ya, saya masih merasa bersalah. Saya tidak pernah tahu pasti apakah orangtua saya sudah meninggal atau masih hidup. Saya dalam perjalanan ke Berlin ketika tiba kabar mengenai tanggal mereka dimusnahkan di Auschwitz. Saya telah melalui hal-hal yang sekarang adalah bagian dari buku-buku sejarah,” dia melanjutkan. “Saya tidak mengerti mengapa kita [manusia] tidak belajar-belajar juga. Genosida terus saja terjadi. Lihat saja di Kamboja dan Vietnam. Kemarin malam saya menonton acara TV mengenai itu. Mungkin itulah sebabnya mengapa tekanan darah saya begitu tinggi.

Seorang perawat masuk. Pendeta memberitahu yang mendasari mengapa tekanan darah wanita itu naik, lalu perawat itu pergi memberitahu dokter.

Kitab Wahyu meletakkan kesalahan atas penderitaan manusia pada Setan yang didukung oleh kebodohan manusia. Generasi demi generasi, kita selalu membuat kesalahan yang sama, berpikir kita telah menyelesaikan persoalan-persoalan kita, sementara satu-satunya solusi hanya ditemukan di dalam Anak Domba yang telah disembelih.

Tuhan, kuatkan aku untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari permasalahan. Tolong aku untuk mematahkan siklus kekerasan dan penindasan, pertama-tama dalam keluargaku, lalu ke mana pun aku pergi.