“Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan IA MENURUNKAN API DARI LANGIT KE BUMI di depan mata semua orang. Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang ini. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu” (Wahyu 13:13,14).

Emiko Okada berumur 8 tahun dan bermain di pekarangan bersama kedua adik lelakinya saat dia melihat cahaya menyilaukan, diikuti suara ledakan keras yang membuatnya tak sadarkan diri. Saat sadar, kenangnya, “Saya merasa sepertinya matahari menimpa saya.” Kedua adik lelakinya menangis di sampingnya, tubuh mereka melepuh karena terbakar. Para tetangga bertumbangan, kulit mereka melepuh. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan.

Hari itu tanggal 6 Agustus 1945, di Hiroshima. Tidak seorang pun di kota bagian selatan Jepang itu mengindahkan bunyi dengung dari tiga pesawat pembom B-29 Amerika di atas kepala mereka. Namun salah satu darinya adalah Enola Gay, dan pukul 8:14 pagi, pesawat itu menjatuhkan bom yang menyebabkan “hujan kehancuran” yang dijanjikan Presiden Truman seandainya Jepang tidak menyerah. Diperkirakan sepertiga penduduk kota yang terdiri 350.000 jiwa itu musnah dalam sekejap. Ribuan lagi meninggal akibat keracunan radioaktif pada tahun-tahun berikutnya. Bom itu telah mengubah kaca menjadi cairan, bangunan menjadi debu, dan orang-orang menjadi sekadar bayangan yang terukir pada puing-puing.

Turunlah hujan berwarna hitam. Bagi Seiko Komatsu, ketika itu berumur 9 tahun, kelihatannya seperti oli. Anak lelaki itu melihat hujan turun membasahi kakek neneknya yang terluka. Tiga hari kemudian, bom atom lain menghancurleburkan Kota Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat pada 14 Agustus. Maka perang terbesar dan mengerikan pun berakhir dalam suatu peristiwa yang jauh lebih mengerikan daripada perang itu sendiri.

Mudah menimpakan kesalahan pada Presiden Truman beserta orang-orang lain yang terlibat sebagai megateroris pertama. Namun fakta historis bahwa dua tindak penjatuhan bom atom ini mungkin telah menyelematkan nyawa jutaan orang serta tahun-tahun penderitaan bagi semua orang yang terlibat dalam perang.

Binatang yang keluar dari dalam bumi di Wahyu 13 memakai “api yang turun dari langit” untuk menegakkan otoritas tritunggal palsu (naga, binatang yang keluar dari laut, dan binatang yang keluar dari bumi). Api yang turun dari langit itu akan semakin menambah penderitaan, bukannya menguranginya. Tetapi Dia yang tidak menghindar dari salib, akan mengakhiri peperangan yang jauh lebih universal dan lebih mengerikan dibanding Perang Dunia II.

Tuhan, aku rindu melihat akhir penderitaan dan kengerian. Tolonglah aku untuk memercayai Engkau tak peduli apa yang mungkin terjadi.