“Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan TIDAK SEORANGPUN YANG DAPAT MEMBELI ATAU MENJUAL SELAIN DARI PADA MEREKA YANG MEMAKAI TANDA ITU, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya” (Wahyu 13:16,17).

Pencobaan dalam bidang ekonomi, dalam ayat ini, bukan hanya suatu peristiwa di zaman akhir—itu sangat relevan dalam kehidupan nyata sepnajang sejarah Kekristenan. Misalnya, John Chrysostom mengritik pemborosan kekayaan. Dia hidup sederhana sebagai uskup Konstantinopel. Pada prosesnya, dia bersekutu dengan uskup-uskup lain yang berkausa dan para elit politik, yang akhirnya berujung pada pembuangan dan kematiannya. Olympia yang kaya-raya menyumbangkan uangnya kepada orang-orang miskin walau menghadapi perlawanan. Dukungannya yang terus-menerus bagi Chrysostom serta posisinya akhirnya membawa pada penyitaan harta kekayaannya.

Kompromi bidang ekonomi adalah hal lumrah dalam masyarakat kita. Satu wawancara Christianity Today mengatakan bahwa tingkat kebangkrutan adalah 18,6 persen lebih tinggi di negara-negara yang memiliki kasino. Tingkat bunuh diri 4 kali lebih tinggi di area-area perjudian berat. Namun demikian, pemerintah memperoleh keuntungan besar dari perjudian, dan industri perjudian menyumbangkan uang ke gereja-gereja dan badan-badan amal untuk membungkam mereka. Uang bicara dan banyak orang mendengarkan, bahkan mengompromikan jiwa mereka.

Dewan gereja setempat di banyak denominasi memperkerjakan, memecat, dan membayar hamba-hamba Tuhan. Dalam lingkungan seperti itu, setiap khotbah memiliki implikasi finansial. Misalnya, seorang pemuda menemukan Yesus saat sedang bicara dengan seorang pengkhotbah jalanan. Dia kembali ke gereja asalnya dan menanyakan kepada pendetanya mengapa dia tidak pernah menjelaskan tentang pertobatan sejati dari atas mimbar. Si pendeta menjawab, dia mesti berhati-hati dengan apa yang dikhotbahkannya, kalau-kalau dia menyinggung perasaan diaken. Lebih mudah untuk membuat penyesuaian dalam pesan-pesan kita agar gaji kita terus mengalir.

Apakah kita berani mengambil langkah lebih jauh ? Masih cerobohkah kita dengan pengeluaran kita saat kita tahu 40.000 orang meninggal setiap harinya karena kelaparan ? Saat kita menyadari uang lembur yang kita boroskan bisa kita habiskan bersama anak-anak kita atau membagikan Kristus kepada tetangga kita ?

Kitab Wahyu tidak mengizinkan suatu komitmen yang terbagi-bagi. Kita harus memutuskan antara Allah dan dunia, dan apa yang bernilai bagi kedua belah pihak. Sebagai orang-orang Kristen, kita adalah warga kerajaan-Nya.

Tuhan, aku menempatkan segala yang kumiliki untuk Engkau pakai seturut kehendak-Mu. Ajar aku untuk menggunakannya bagi kemuliaan-Mu.