“Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia SERATUS EMPAT PULUH EMPAT RIBU ORANG YANG DIDAHI MEREKA TERTULIS NAMANYA DAN NAMA BAPANYA. Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan bunyi guru yang dahsyat…” (Wahyu 14: 1, 2).

Karakteristik utama ke-144.000 orang dalam ayat bacaan hari ini adalah mereka merupakan umat yang dekat dengan Yesus. Mereka mengikuti Dia kemana pun Dia pergi dan nama-Nya tertulis di dahi mereka, yang berarti mereka selalu berusaha menjadi serupa dengan Dia.

Saya punya teman yang menerima undangan untuk mengajar pelayanan praktis di sebuah universitas Advent di Filipina. Segera setelah tiba di Filipina dia mulai menempuh jarak jauh bersepeda menyusuri alam pedesaan yang indah. Jalan-jalannya berkelok-kelok melewati hutan tropis, lapangan rumput, dan kota-kota kecil.

Karena cuaca di Filipina hampir selalu menyenangkan, dia selalu menyaksikan orang-orang Filipina yang ramah duduk-duduk di luar rumah, siap menyambut siapa pun yang lewat. Dia membayangkan bahwa dia menjadi pemandangan yang cukup menarik bagi orang-orang. Bagaimana pun, penampilan seorang Amerika kulit putih yang agak tinggi berjalan-jalan di jalanan merupakan sesuatu yang menarik untuk dikomentari. Hampir semua orang yang dia temui menyerukan saru atau dua kalimat: “Halo, Joe!” atau “Mau kemana?”

Sapaan “Halo,Joe!” adalah sisa-sisa peninggalan zaman Perang Dunia II ketika masih bertebaran GI “Joe” di Filipina. Sapaan “mau ke mana?” jauh lebih sukar untuk dijawab, karena, tidak seperti kebanyakan orang Filipina,Jim tidak punya tujuan khusus, dia keluar untuk berolahraga dan mencari udara segar. Karena tidak memiliki peta daerah tersebut, akhirnya dia mengambil sembarangan jalan untuk melihat petualangan apa yang menanti di sana. Karena tidak punya tujuan, biasanya dia menanggapi itu dengan berteriak, “Aku tidak tahu!”

Tahukah anda tujuan hidup Anda? Atau apakah Anda pikir tidak jadi soal asalkan Anda mempercayai Allah? Ya, tentu saja Allah memanggil kita untuk mempercayai Dia di setiap langkah kita, tetapi tidak berarti kita tidak perlu membuat rencana cermat dan konkret berkenan dengan masa depan kita yang bisa Dia berkati atau arahkan kembali. Tidak punya tujuan saat bersepeda adalah satu hal. Menyerahkan arah kehidupan kepada peluang semata adalah hal lain.

Tuhan, aku bersyukur karena Engkau telah menyediakan peta bagi hidupku di dalam Alkitab. Mulai hari ini, tolong aku untuk lebih menaruh perhatian padanya.