“MEREKA MENYANYIKAN SUATU NYANYIAN BARU dihadapan tahta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu” (Wahyu 14: 3).

Saya tidak pernah melupakan mimpi saya ketika saya masih remaja. Tidur saya pastinya sangat nyenyak, karena saya benar-benar terbenam dalam mimpi tersebut. Dalam mimpi itu saya berada di Yerusalem Baru. Saat memandang berkeliling, saya melihat jalan-jalan dari emas penuh orang-orang yang gembira dan kemuliaan bersinar disekeliling saya. Menyadari bahwa saya berada di sana, kesan pertama saya adalah perasaan tak layak. “ Aku tak percaya Allah telah menerimaku diantara semua orang ini! Aku yang tak layak ini!” Suatu perasaan takjub benar-benar melanda saya.

Lalu satu kesan yang jauh lebih kuat menggantikan perasaan tak layak itu. Sukacita dan rasa syukur memenuhi diri saya. Ingin berteriak dan menyanyikan pujian bagi Allah. Rasanya saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi, selain hanya ingin mencurahkan rasa terima kasih saya kepada Yesus, yang membuat semua itu mungkin. Yesus, nama yang mengangumkan! Pribadi yang luar biasa. Dan saya menyanyikan betapa mulia kasih karunia-Nya… hingga saya terbangun! Sekarang saya belajar untuk memuji Dia sebelum beradsa di surga, atas apa yang telah Dia lakukan bagi saya.

Konsep tentang “nyanyian baru” tidak dimulai di dalam Kitab Wahyu. Itu adalah tema umum di dalam mazmur. Menariknya, di man pun konsep ini muncul, itu selalu sebagai tanggapan terhadap keselamatan dari Allah yang agung. Mazmur 40: 4 menyatakan, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. “Lalu pada ayat 2 dan 3, diberitahu apa yang mengilhami nyanyian baru itu: “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkatku di atas bukit batu, menetapkan langkahku.”

Mazmur 98: 1, 2 mengatakan, “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan,” Mengapa? “Sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib…. Tuhan telah memperkenankan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.” Pemazmur menyanyikan nyanyian baru karena perbuatan-perbuatan ajaib yang Tuhan telah lakukan, terutama menyatakan keselamatan-Nya keseluruh dunia.

Pemazmur seringkali mengulangi pola ini. Mankala konssep nyanyian baru muncul, itu selalu dimotivasi tindakan penyelamatan Allah yang agung. Saat kita tiba di Yerusalem Baru, keselamatan yang dari Allah yang akan mengilhami nyanyian baru. Dan kita akan menyanyikan nyanyian itu dengan penuh kekuatan karena akhirnya kita sadar betapa kita telah diselamatkan.

Semoga perbuatan-Mu yang besar bagiku mengajarkan syair “nyanyian baru” pada hari ini.