“MEREKA MENYANYIKAN SUATU NYANYIAN BARU di hadapan takhta dan di depan keempat mahluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu” (Wahyu 14: 3).

Nyanyian baru ini, bukan saja karena pengalaman itu baru, tetapi karena orang-orang yang menyanyikannya juga “baru.” Masing-masing mereka telah mengenal kesedihan dan penderitaan, penganiayaan dan penolakkan. Mereka bergumul dengan kelemahan-kelemahan fisik, mental, dan emosional. Dan mereka kenal konsekuensi dosa yang pahit. Tetapi Allah akan menjadikan segalanya baru, termasuk umat-Nya. Dia adalah Seniman Agung.

Bayangkan seorang raja meninggalkan takhtanya dan berkeliraan menyamar di kota. Dia masuk ke perkampungan kumuh di kota dan berjalan menyusuri lorang gelap. Di sana dia melihat tunawisma tua memainkan trompet usangnya, berusaha meraup beberapa keping uang dengan mengulangi lagu yang sama berulang kali. Kedengaran mengerikan. Lagu buruk yang keluar dari trompet yang rusak. Raja menghampiri pria tersebut dan berkata, “Aku ingin membeli trompet darimu. Aku akan beri engkau cukup uang untuk tinggal disebuah istana.”

“Maksud anda trompet ini? Trompet yang sudah usang dan berkarat ini? Anda mengiginkan trompet ini?” Tanya tunawisma itu. “Ya, trompet itu.” Raja membeli trompet itu, membawanya pulang, menyerahkannya kepada putranya, dan berkata, “Aku ingin engkau memperbaiki trompet ini.”

Putra raja membawa trompet itu ke bengkelnya. Dia menaruh pipa peniup baru, mamalu lekukan-lekukannya, dan memasang katup-katup baru. Setelah membersihkannya, dia menggunakan lilin dan kain untuk memolesnya. Alkitab mengatakan, Allah akan menjadikan kita seperti emas, memoles dan memurnikan kita, membersihkan kita. Saat ini Dia sedang mengerjakannya!

Akhirnya harinya datang ketika trompet itu selesai. Putra raja membawanya kepada ayahnya dengan nama ayahnya terukir pada trompet itu. Raja menerima trompet itu dan mengomentari, “Kelihatan hebat, Nak. Ayah tidak sabar untuk mencobanya. “Raja mengambil trompet itu, sekarang tampak bagus dan mengkilap, meletakkannya dibibirnya, dan meniupnya. Dan kali ini keluar bukan lagu yang sama, bukan melodi yang tidak enak. Suatu nyanyian baru keluar dari trompet itu, nyanyian baru yang agung. Baik instrumen maupun lagu telah diperbaharui!

Kehidupan kita hari ini mungkin dikotori oleh keegoisan dan keangkuhan atau digerogoti hawa nafsu dan iri hati. Mungkin kita merasa tak karuan bentuknya. Tapi sang Seniman Agung telah membawa kita ke “bengkel keja-Nya.” Dan saat Dia selesasi memoles kita, maka kita akan menyanyikan nyanyian baru!

Tuhan, terima kasih atas harapan dan masa depan. Semoga masa depan itu membentuk kehidupanku hari ini.