“Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang MENGIKUTI ANAK DOMBA ITU ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela” (Wahyu 14:4,5).

Seandainya Allah menebus ke-144.000 orang dari antara umat manusia, tentunya mereka bukannya tak bercela secara mutlak. Setiap manusia, terkecuali Yesus, telah berdosa di masa lalu dan terus kehilangan kepenuhan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Komunitas yang mereka capai bukan didasarkan pada kesempurnaan catatan masa lalu mereka, tetapi bagaimana hubungan mereka dengan Allah dan satu sama lain di masa lalu.

Brennan Manning menceritakan kisah seorang wanita Katolik yang digosipkan mendapat penglihatan tentang Yesus. Gosip ini terdengar oleh uskup wilayah itu, dan dia memutuskan menyelidikinya. Tampaknya ada garis pemisah jelas yang memisahkan antara pelihat yang sejati dengan seorang yang nyaris gila. Sang uskup bertanya kepadanya, “Apakah benar, Bu, bahwa ibu mendapat penglihatan tentang Yesus?”

“Ya,” jawab wanita tersebut. “Kalau begitu,” kata sang uskup, “lain kali bila Anda mendapatkan penglihatan, saya ingin Anda menanyakan pada Yesus dosa-dosa apa yang saya akui dalam pengakuan dosa saya yang terakhir.” Wanita itu terpana. “Bapak uskup, apa saya tidak salah dengar? Anda benar-benar ingin saya menanyakan pada Yesus tentang dosa-dosa masa lalu Anda?” Kata uskup itu, “Tepat. Telepon saya jika sesuatu terjadi.”

Sepuluh hari kemudian wanita itu memberitahu pemimpin rohani itu tentang penampakan yang terjadi belum lama berselang. “Silahkan datang,” katanya. Dalam waktu satu jam sang uskup pun datang. “Anda baru saja mengatakan di telepon bahwa Anda benar-benar mendapat penglihatan tentang Yesus, Apakah Anda melakukan seperti yang saya minta?”

“Ya, Bapak uskup. Saya meminta Yesus untuk mengatakan kepada saya dosa-dosa yang Anda akui dalam pengakuan dosa terakhir.” Sang Uskup mencondongkan tubuh dengan penuh harap. Matanya menyipit. Wanita itu meraih tangannya dan menatap dalam-dalam ke dalam matanya. “Bapak Uskup,” katanya, “inilah kata-kata Yesus, tepatnya : Aku tidak ingat lagi.”

Benar tidaknya kisah ini, kisah ini tetap mengilustrasikan suatu kebenaran hakiki. Saat kita menerima Yesus menjadi Juruselamat kita, Allah memperlakukan kita seakan-akan kita tidak pernah berdosa (Yesaya 43:25). Saat kita belajar untuk melakukan hal yang sama kepada sesama satu sama lain, maka komunitas kita menjadi tempat pemulihan yang sungguh-sungguh “mengikuti Anak Domba.”

Tuhan, tolong aku untuk mengampuni sesamaku sebagaimana aku sendiri telah diampuni.