“Dan DI DALAM MULUT MEREKA TIDAK TERDAPAT DUSTA; mereka tidak bercela” (Wahyu 14: 5).

Ke- 144.000 0rang itu dikenal karena kejujuran mereka (kontras dari sikap menipu diri Jemaat Laodikia). Mulut mereka tidak berdusta. Salah satu cirri utama umat Allah di Zaman akhir adalah komitmen sepenuhnya terhadap kebenaran dan mengabarkannya dalam setiap kondisi kehidupan.

Itulah tujuan utama dalam rencana keselamatan Allah. Memahami dan menerima kebenaran adalah kunci menuju kemerdekaan dan kehidupan yang memuaskan, karena apa pun yang Anda putuskan untuk yakini akan menentukan apa yang Anda akan perbuat dan prilaku Anda.

Seorang siswa SMU yang berbakat lulus dengan peringkat teratas di kelasnya. Saat mengikuti ujian masuk ke universitas, dia mendapatkan nilai 98. Siswa itu berpendapat bahwa 98 merujuk pada IQ-nya, dan karena nilai 98 itu rendah, dia mulai berpikir bahwa dia tidak cerdas. Di akhir semester pertamanya di universitas, siswa yang dulu cerdas dan gemilang itu tidak lulus dalam hampir semua mata kuliahnya.

Salah seorang dosen memanggilnya dan berkata, “Saya heran melihat bagaimana seorang dengan catatan nilai SMU begitu brilian sepertimu tiba-tiba saja bisa memperoleh nilai-nilai buruk di universitas.” Pemuda itu menjawab bahwa dia merasa dirinya bodoh, itu sebabnya nila-nilainya tercatat buruk.

Diskusi lebih lanjut mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Nilai 98 itu adalah persentase. Dengan kata lain, sebenarnya siswa itu mencatat nilai 98 dari 100. Pada kenyataannya, dia adalah salah seorang mahasiswa paling berprestasi di selurug negeri, salah seorang siswa terbaik yang pernah tercatat di universitas tersebut. Semester berikutnya, siswa tersebut kembali menempati peringkat atas di kelasnya. Apakah yang membuat perbedaan itu? Perbedaan adalah dalam apa yang dia yakini, tentang dirinya.

Seperti yang dikatakan Salomo, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia” (Ams. 23: 7). Apa yang kita yakini, secara langsung mempengaruhi bukan hanya pencapaian kita tapi juga bagaimana kita berprilaku. Jadi, jika begitu banyak “kebenaran” yang saling bertentangan memenuhi dunia ini, tidak mengherankan maka keresahan, kesukaran dan perselisihan mewabahi masyarakat tempat kita tinggal saat ini.

Tujuan utama Allah adalah memulihkan umat manusia kepada kesempurnaan yang semula dinikmati. Di dunia baru tidak ada kesalahan dan kebingungan. Permasalahan-permasalahan yang kita hadapi saat ini berujung pangkal pada “bapa segala dusta” (Yoh. 8: 44). Solusinya ditemukan di dalam kebenaran yaitu di dalam Yesus (Yoh. 14: 6). Oleh karena itu, Kitab Suci menggambarkan umat Allah sebagai umat yang tak berdusta (Why. 14: 5). Mereka bersatu di dalam kebenaran.

Tuhan, hari ini aku mengkomitmenkan diri kepada tiga hal: Mengenal Engkau, mengenal kebenaran, dan mempraktikkan kebenaran yang aku tahu.