“Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua BANGSA DAN SUKU DAN BAHASA DAN KAUM” (Wahyu 14:6). …

Ayat hari ini memperlihatkan kepedulian Allah bagi orang-orang dari setiap bangsa, bahasa, etnik, dan garis keturunan. Tidak peduli bagaimana mereka telah menentang-Nya, tidak peduli betapa jahat kelakuan mereka. Yesus telah mati bagi mereka (Wahyu 5:9; 2 Korintus 5:14). Dia menghargai mereka dengan ukuran nilai salib yang tak terbatas. Allah memperlihatkan tidak adanya prasangka yang luar biasa besar. Multikulturalisme bukan hanya sekadar tren, itu adalah dasar sikap Allah terhadap orang-orang dalam keberagaman mereka yang tak terbatas. Tanpa memihak salah satu pihak. Dia peduli pada semua orang.

Saya tumbuh besar di New York City dan saya rasa itu membuat saya selangkah lebih maju dalam menghargai keberagaman Allah yang luar biasa. SMU tempat saya belajar terdiri dari sepertiga orang kulit putih, sepertiga kulit hitam, dan sepertiga lagi Hispanik. Semua kawan paling akrab saya adalah Hispanik. Sekali saya pernah menjadi kapten tim basket yang semua anggotanya kulit hitam dan tidak menyadari kenyataan itu hingga seseorang menyinggung hal itu dalam setengah babak permainan. Menurut saya prasangka adalah masalah kecil dalam hidup saya.

Saya baru mulai kuliah saat gerakan Black Power dimulai dan juga menyaksikan Black History Week yang pertama. Setelah pembunuhan Martin Luther King, saya mendengar segala jenis kemarahan ditujukan kepada saya yang menurut saya tidak sepantasnya saya terima, dengan mempertimbangkan perilaku tak tercela saya di SMU dulu. Mengapa orang-orang ini begitu marah? Saya bertanya-tanya. Kita punya hak dan kesempatan yang sama

Lalu saya bertemu Greg. Dengan kuat namun sabar dia memperkenalkan saya ke dunia Afrika-Amerika. Menolong saya melihat dunia melalui kaca matanya, dia memberitahu saya seperti apa rasanya dipandangi dengan tatapan curiga ke mana pun Anda pergi. Diacuhkan di toko sementara orang-orang lain dilayani. Mentok di pekerjaan yang hanya tersedia bagi “orang-orang yang tepat.” Dan bahkan menjadi orang-orang yang tidak diinginkan di beberapa gereja hanya dikarenakan warna kulit dan perbedaan-perbedaan lain.

Saya sadar bahwa dunia ini tidak sesederhana yang saya pikirkan. Dia yang memilih menciptakan manusia dengan segala keberagaman mereka, berdiam di dalam diri orang-orang dari segala bangsa, suku dan bahasa. Itu adalah Yesus yang telah mati bagi semua orang. Bagaimana perasaan mereka dan bagaimana mereka hidup sangat penting bagi-Nya.

Tuhan, bukakan mataku untuk melihat penderitaan di dalam kehidupan orang-orang. Mampukan aku untuk berani berdiri menghadapi ketidakadilan setiap kali aku menemukannya.