“Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit… dan ia berseru dengan suara nyaring: Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia. Karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan SEMBAHLAH DIA YANG TELAH MENJADIKAN LANGIT DAN BUMI DAN LAUT DAN SEMUA MATA AIR’” (Wahyu 14: 6, 7).

Kisah yang menarik dalan Wahyu adalah bahwa Alla menciptakan alam semesta di mana adalah mungkin bagi makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya untuk menyangkal bahwa Dia telah menciptakannya. Dengan kata lain ketika orang-orang diundang menyembah sang Pencipta maka Allah tidak memaksa siapa pun juga untuk menagkui peran-Nya di dalam penciptaan. Umat manusia itu laksana jangkrik yang mempertanyakan apakah seorang pembangun membangun rumah yang mereka diami, berpikir bahwa entah bagaimana rumah itu ada dengan sendirinya. Allah bukan hanya berkuasa, sebagaimana yang diajarkan alam semesta kepada kita (Rm. 1: 18-20), tetapi Dia juga sangat sabar dengan keterbatasan intelektual makhluk ciptaan-Nya.

Apakah di dunia zaman sekarang ini masuk akal untuk menyembah Dia yang telah menciptakan langit, bumi, laut, serta seluruh mata air? Clifford Danielson di dalam The Book of the Cosmos, yang disunting oleh Dennis Golstein, mendapati beberapa alasan yang kuat untuk percaya.

Buku tersebut berisikan kisah tentang seorang ilmuwan yang mengkhususkan diri dalam teori probabilitas. Ia memperkirakan bahwa peluang alam semesta kita ada tanpa ciptaan adalah 10229. Itu berarti satu peluang dalam 1 diikuti oleh 229 nol, angka yang terlalu besar untuk saya bayangkan! Yang membuat angka ini lebih menakjubkan adalah angka estimasi dari jumlah semua proton dan neutron di alam semesta yang kasad mata ini hanyalah 1080 ( 1 diikuti oleh 80 nol)! Angka-angka ini menjelaskan, mustahil bila alam semesta ini bisa terjadi terlepas dari suatu rancangan Ilahi.

Seorang astronom, Owen Gingerich, menambahkan kesaksiannya, “Saya tidak bisa membuktikan bahwa Allah eksis. Tetapi apakah langit menceritakan kemuliaan Allah? Ya. Alam semesta ini begitu penuh dengan hal-hal mengangumkan sehingga saya tidak dapat berpikir bagaimana jika tidak begitu.”

Goldstein mengutip perkataan Cicero, seorang orator zaman purba. Jika seruling memainkan suatu lagu dapat menumbuhkan tunas pohon zaitun, tidak diragukan lagi bahwa pohon zaitun itu pasti memiliki pengetahuan tentang cara memainkan seruling. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa dunia yang penuh dengan makhluk-makhluk cerdas menunjuk pada Pribadi cerdas di balik rancangan alam semesta kita. Apakah ini jelas bagi kita, Allah tidak memaksa siapa pun untuk menyembah-Nya. Dia mengundang, terakhir kalinya, untuk mengakui bahwa kita hidup, bergerak dab ada adalah karena Dia.

Tuhan, terima kasih karena menjadikan aku salah satu ciptaan-Mu yang luar biasa. Penuhi hatiku hari ini dengan kekaguman dan hasrat untuk menyembah serta melayani Engkau sepenuh hatiku.