“DAN SEMBAHLAH DIA YANG TELAH MENJADIKAN LANGIT DAN BUMI DAN LAUT DAN SEMUA MATA AIR” ( Wahyu 14 : 7).

Frasa terkhir Wahyu 14 : 7 berisikan bahasa dari hukum keempat. “Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segalanisinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Kel. 20 : 11). Penelitian seksama menunjukkan suatu referensi yang disengaja kepada hukum keempat. Menjelang hari-hari terakhir sejarah dunia, saat segala sesuatunya berjalan, Allah memanggil umat untuk memperhatikan hukum Sabat. Tidakkah itu suatu kesewenag-wenangan di pihak Allah? Berikut ini dapat menolong Anda pada gagasan ini:

Bayangkan ssebuah Negara (misalnya resesdi Antartika) yang penduduknya menganut budaya berbeda dengan kita. Setiap wanita di sana punya 60 suami. Mereka berkomunikasi dengan ke-60 suami ini dengan cara mendirikan patung pria lalu menyampaikan pesan-pesan mereka kepada patung itu. Menyebutkan ke-60 nama ini dihadapan patung ini, mereka lalu mendirikan altar, menyalakan lilin, dan menata buah-buahan di hadapan patung tersebut. Lalu saya berlibur ke Antartika, dan jatuh cinta pada salah seorang wanita-wanita itu, kemudian mengajaknya untuk menikah. Setelah dia mengiyakan, saya pun menjelaskan perbedaan budayanya dengan budaya saya.

Pertama, saya menjadi suami satu-satunya. Kedua, setiap kali dia ingin bicara dengan saya cukup hanya memencet nomor saya di ponselnya. Saya siap sedia untuknya 24 jam sehari, tidak peduli apa yang saya sedang kerjakan. Ketiga, di tempat saya tinggal, saya sangat terkenal dan berkuasa sehingga jika dia masuk ke toko maka cukup menyebut nama saya, maka dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dan akhirnya, saya memberitahukannya, bahwa setiap minggu mulai dari matahari terbenam Hari Jumat hingga matahari terbenam Hari Sabtu, itu adalah waktu istimewa kami. Selama periode 24 jam itu, saya akan bersama-sama dia, dia akan bersama-sama saya, dan tidak ada apa pun akan mengalihkan perhatian kami.

“Tidak masalah, kedengarannya menyenangkan!” jawabnya. Tetapi tidak lama kemudian dia menemui konselor pernikahan. “Terlalu sulit, “ katanya dengan frustasi. “Aku lelah menuruti aturan-aturanmu. Aku ingin kembali pada patung-patungku, punya suami cadangan, dan mengubah tanggal kencan kita. Tetapi aku tetap ingin menyandang namamu, karena saat aku membutuhkan sesuatu, atau terlibat dalam masalah, nama itu memudahkan segalanya.”

Apakah yang akan Anda lakukan pada istri Anda? Akankah saya membiarkannya mencari jalannya sendiri? Atau akankah saya terus mengejarnya, sekalipun dia pergi kencan dengan pria-pria lain, tidak pernah datang kekencan kami, tidak pernah menelepon saya? Apakah ”kencan” mingguan kita dengan Allah sedemikian sulitnya?

Tuhan, bantu aku untuk mendahulukan Engkau, bahkan di tengah-tengah jadwal harian dan mingguanku.