SEMBAHLAH DIA YANG TELAH MENJADIAK A LANGIT DAN BUMI DAN LAUT DAN SEMUA MATA AIR” (Wahyu 14 ; 7).

Beberapa kawan saya memiliki anak pertama mereka kurang lebih 15 tahun yang lalu. Mereka sangat senang menghadapi kemungkinan itu. Dengan bersemangat mereka mulai memikirkan bagaimana harus menyambut kedatangan bayi mereka. Tapi pada saat itu, mereka justru berbeda pendapat dalam persiapan.

Sang calon ibu fojus pada jenis tempat tidur yang harus dibeli, warna kamar, serta pajangan-pajangan di dinding. Dia tahu bayinya akan membutuhkan benda-benda bergerak untuk belajar memfokuskan pandangan, dan dia memilih bahan-bahan linen terbaik untuk bayinya. Dia meluangkan lebuh banyak waktu di pasaraya, meneliti bahan-bahan pakaian lembut dan selimut-selimut serta pembungkus hangat yang perlu untuk menghadapi iklim dingin tempat tinggal mereka saat itu. Sepatu-sepatu, sepatu bot, kaus kaki, pakaian dalam-daftar tak ada habis-habisnya dan semakin bertambah.

Di lain pihak, sang ayah , sadar bahwa masa tumbuh kembang bayi akan segera berlalu, dan saat itu tiba, sang anak akan masuk SMU, berkencan untuk pertama kalinya, masuk universitas… lalu? Dia sadar bahwa kehidupan seperti yang dikecap sebelum menikah sekarang telah selamanya berlalu dia akan menjadi seorang ayah! Hari pernikahan dan perkawinan itu sendiri tidak dapat dibandingkan dengan yang satu ini.

Meskipun mereka memiliki sudut pandang yang berbeda dan dua peran yang benar-benar berbeda, keduanya mengarah pada tujuan yang sama: Mereka sedang mempersiapkan kelahiran karunia dari Tuhan! Lalu tibalah dia,seorang bayi lelaki. Tiga setengah kilogram lebih beberapa ons, pasangan muda itu lupa tentang pajangan-pajangan dinding, warna kamar, selimut dan kain-kain pembungkus, pakaian dalam dan baju-baju lucu, buaian, bahkan tempat tidur bayi. Kenyataan lahirnya seorang anak telah membuat mereka melupakan segala sesuatu yang telah mereka persiapkan, karena sekarang mereka focus pada peristiwa itu sendiri.

Sabat tiba setelah satu hari yang oleh Kitab Suci dinyatakan sebagai hari persiapan (Mat. 27: 62; Mrk. 15: 42; Luk. 23; 54). Hari Jumat adalah hari mempersiapkan diri untuk ibadah, satu hari untuk mempersiapkan tubuh, pikiran, dan lingkungan menyambut hari yang tidak boleh kita lupakan, karena itu mengesampingkan segala sesuatu yang lain sehingga kita dapat memusatkan perhatian kita kepada-Nya.

Dia yang menciptakan langit dan bumi, laut, serta semua mata air layak untuk kita sembah. Hari-Nya layak untuk dipersiapkan dan dinanti-nantikan seperti pasangan muda menanti-nantikan karunia keci dari Allah!

Tuhan, aku ingin lebih mengenal-Mu, sehingga aku bisa bersiap menghadapi kencan istimewah yang telah Engkau rencanakan bagi kita minggu ini.