“Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: ‘Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu,…; dan ia AKAN DISIKSA DENGAN API DAN BELERANG DI DEPAN MATA MALAIKAT-MALAIKAT KUDUS DAN DI DEPAN MATA ANAK DOMBA. MAKA ASAP API YANG MENYIKSA MEREKA ITU AKAN NAIK KE ATAS SAMPAI SELAMA-LAMANYA, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barang siapa yang telah menerima tanda namanya” (Wahyu 14: 9-11).

Banyak gambaran kekerasan memenuhi Kitab Wahyu. Kita mendapati kekerasan menentang Yesus (Why. 1:5, 7; 5:6; 12:11); kekerasan menentang para pengikut-Nya (Why. 2:10, 13; 6:9, 10); serta kekerasan yang dilakukan oleh musuh-musuh Anak Domba (Why. 13:7; 16:6; 17:16; 18:7, 20, 24). Tapi yang merisaukan sebagian orang adalah kekerasan Ilahi dalam kitab ini, yang sangat jelas digambarkan dalam Why 14:9-11. Bagaimana mungkin Anak Domba, di satu pihak, merupakan korban kekerasan dan di lain pihak menjadi yang menyiksa dan membinasakan?

Yang seringkali terlewatkan oleh orang-orang adalah, pemerintah yang benar-benar baik pada tingkatan tertentu mesti melaksanakan kekerasan agar dapat memerangi kejahatan. Mungkin hanya melibatkan penegakkan disiplin saat seorang polisi menyuruh Anda menepi dalam suatu razia, atau mengirimkan seorang petugas untuk memeriksa pajak Anda. Anda tidak menggap itu suatu kekerasan? Nah, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan. Seberapa cepat Anda berkendaran seandainya tidak ada polisi? Berapa besar pajak yang Anda bayarkan seandainya itu bersifat sukarela? Seberapa antusias kebanyakan narapidana untuk tinggal dalam penjara? Pemerintah yang baik menerapkan disiplin yang cukup supaya kita bisa hidup dalam ketenagan.

Gambaran-gambaran dalam Kitab wahyu tampaknya tidak selalu menyenangkan, tetapi semua itu meyakinkan kita bahwa Allah akan mengakhiri kekerasan dan penindasan. Kenyataan bahwa kekuatan destruktif terjadi dengan hadirnya Anak Domba, tidak berarti Dia menikmati gambaran mengerikan seperti itu. Itu berarti Allah telah memberikan kepercayaan kepada Dia yang telah banyak menderita. Jika perlu adanya kekerasan dari Allah, Anak Domba akan mengawasi dan membatasinya. Mengapa harus Anak Domba? Hanya Dia yang sepenuhnya memahami harga penderitaan dan bisa dipercaya untuk berbelas kasihan untuk penegakkan keadilan Ilahi. Anak Domba yang telah disembelih itu akan menghentikan kejahatan tanpa kekerasan terlalu banyak. Pengadilan Ilahi akan menimbulkan penderitaan karena dosa, tetapi tidak sati iota lebih besar daripada yang dibutuhkan.

Tuhan, rahasia hikmat-Mu dalam pengaturan alam semesta ini jauh melebihi pemahamanku.