“Yang penting disini adalah KETEKUNAN orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus” (Wahyu 14 : 12).

Dalam bukunya Pure Desire, Ted Roberts mendefenisikan kata Bahasa Yunani untuk kesabaran sebagai “integritas ditengah-tengah penderitaan pribadi.” Integritas menjadikan diri Anda yang sesungguhnya , bahkan saat tidak ada yang melihat atau saat konsekuensinya berat. Sebagai lawan gambaran ini, integritas berarti bersikap konsisten dan nyata, tidak peduli seperti apa kondisi di luar diri kita.

Integritas seringkali terlupakan dalam perkara-perkara sepele. Seorang pria mengatakan, “Aku mencintai istriku,” lalu bermain api dengan gadis-gadis di tempat kerjanya. Seorang wanita bersikap seperti orang suci di gereja, tetapi cepat naik pitam kepada anak-anaknya saat berada di rumah. Tujuan utama seorang suami seharusnya bukanlah respek di tempat kerja atau dari kawan-kawannya, tetapi respek dari mereka yang paling mengenalnya. Dibutuhkan integritas yang besar dari seseorang untuk mempertahankan respek keluarga tahun demi tahun.

Sebagaimana halnya dengan orang-orang kudus di dalam Wahyu 14:12, integritas ada saat kita terus tanggap dengan kerajaan Allah dan hadirat-Nya. “Siapakah yang tahu jika aku berbuat ini?” Yusuf tahu jawabannya. Allah juga tahu. Tetapi saat kita kehilangan rasa akan hadirat-Nya, sedikit ketidakmurnian menyelinap ke dalam kehidupan kita dan berkompromi dengan integritas. Dan tanpa integritas bencana sedang mengintai di sudut.

Tahun 1912 Kapal Titanic berlayar ke Amerika dari New England. Dengan konstruksi yang baru membuat para pembangunnya menyatakan kapal itu sebagai tak dapat tenggelam. Namun saat kapal itu menabrak gunung es di tengah lautan Atlantik, hanya dalam beberapa jam saja kapal itu pun tenggelam, menyeret lebih 1.000 penumpang ke kedalaman lautan.

Bertahun-tahun orang-orang bertanya, Bagaimanakah mungkin kapal yang tak dapat tenggelam ternyata tenggelam begitu cepat ? Jawabannya akirnya didapat saat para peneliti menemukan bingkai kapal tersebut di dasar samudera. Mereka menemukan pelat-pelat besi lambung kapal, selain juga paku-paku sumbat yang menahan pelat-pelat besi itu. Analisis objek-objek tersebut menunjukkan bahwa campuran besi itu sedikit tidak sempurna. Hal ini semakin melemahkan lambung kapal dan paku-paku sumbatnya, dan pada dinginnya air Samudera Atlantik, logam tersebut menjadi rapuh. Ketidaksempurnaan kecil logam ini mempertaruhkan integritas kapal dan membawa bencana.

Saat umat kudus Allah melewati kesukaran zaman akhir, mereka akan memiliki integritas yang tidak akan dihancurkan oleh penindasan atau penderitaan pribadi.

Tuhan Yesus, Engkau menanggung derita di kayu salib karena Engkau melihat gambaran keseluruhannya. Arahkan mataku kepada-Mu saat aku tergoda untuk membiarkan perkara-perkara sepele mengganggu pandanganku.