Dja-dja satu-satunya orang Kristen di Desa Tangouroubi. Yang lain terus menyembah roh-roh nenek moyang mereka. Dengan mengabaikan penampilan luarnya, kesaksiannya benar-benar tak membuahkan hasil. Saat usia mendera tubuhnya, dia tidak dapat lagi hadir di gereja yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.

Suatu hari Dja-dja pingsan tak sadarkan diri diluar pondoknya. Keluarganya membawanya ke dalam. Semua orang tahu bahwa saat kematiannya sudah mendekat. Menurut tradisi Lobi di Burkina Faso, mereka menimangnya di lengan mereka untuk menolongnya memasuki alam yang lain. Mereka percaya bahwa dengan berbuat begitu mereka dapat memanipulasi rohnya untuk menyakinkanya bahwa dia dapat tempat peristirahatan di Firdaus sana.

Saat keluarga Dja-dja memeluknya, dia memperoleh kesadarannya lagi. Mengamati praktik-praktik animistik itu, dia berseru, “Aku tidak ingin kalian orang-orang kafir menyentuhku. Aku ingin mati di pelukan Yesus.”

Dengan takjub keluarganya meletakkannya dan menjauh. Walaupun sering mereka mendengarnya berbicara tentang Yesus, mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin dia memercayakan jiwanya kepada seseorang yang belum pernah dilihatnya. Saat-saat kematiannya adalah kesaksian terbaiknya. Itu adalah penyangkalan total terhadap animisme turun-temurun dengan segala ketakutan dan upayanya untuk menyenangkan roh-roh. Dan itu adalah kesaksian terbesarnya tentang imannya kepada Yesus.

Walaupun beberapa anggota keluarga Dja-dja mungkin tersinggung, pernyataan sederhana tentang imannya kepada Allah melampaui ketersinggungan itu. Mereka sadar bahwa kali ini Dja-dja bicara dari hatinya, dalam saat-saat dia paling membutuhkan Dia. Yesus sangat nyata baginya. Dia ada di sana menghibur dan memeluknya. Dja-dja merasa sangat tenang, aman, dan selamat dalam pelukan Yesus- dan mereka yang hadir juga melihat itu. Ketika dia meninggal di dalam Tuhan, kebahagiaan dari kematian yang demikian sangat jelas bagi semua yang hadir.

Semenjak kematian Dja-dja, empat orang di desanya menerima baptisan di dalam nama Yesus. Saat ini lebih dari selusin orang bertemu setiap minggunya untuk beribadah kepada Allah di sebuah desa di mana kesaksian Dja-dja tampaknya tak berbuah untuk sekian lamanya. Kematiannya sungguh diberkati, dia beristirahat dari jerih lelahnya, dan kesaksiannya mengikutinya!

Tuhan, kematian menghantui setiap manusia. Hari ini, lebih dari yang sebelumnya, aku memohon sekecap kebahagiaan yang Engkau janjikan di dalam Wahyu.