“Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengan TUJUH MALAPETAKA TERAKHIR, karena dengan itu berakhirlah MURKA ALLAH. Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu BERDIRI ORANG-ORANG YANG TELAH MENGALAHKAN BINATANG ITU DAN PATUNGNYA DAN BILANGAN NAMANYA. Pada mereka ada kecapi Allah. (Wahyu 15:1,2).

Ayat ini memperkenalkan tujuh tulah terakhir dalam sejarah bumi. Tulah itu menimpa mereka yang menolak Allah dan menyiksa para pengikut-Nya. Namun seperti halnya peristiwa keluaran dari Mesir yang pertama, kuasa Allah yang membebaskan umat-Nya. Walaupun hal-hal buruk terjadi di dalam nama Allah, Kitab Wahyu mengajarkan kepada kita bahwa bahkan tulah-Nya pun mereka tidak penuh belas kasih untuk memperingatkan mereka yang tidak mau bertobat dan menyelamatkan mereka yang setia.

David Kosoff bercerita tentang seorang rabi terkenal yang bertukar posisi dan pakaian dengan supirnya. Samuel, sebelum mengunjungi sebuah sinagog. Saat mereka tiba, para anggota sinagog segera mengerumuni Samuel, mengira dia ahli Kitab Suci terkemuka itu. Saat istirahat, para pemimpin sinagog memuji-mujinya dan menyimak setiap perkataannya.

Menikmati ketenaran yang baru dirasakannya, Samuel menolak menaggalkan penyamarannya ketika tiba saatnya untuk berkhotbah. Dengan percaya diri yang salah kaprah, dia berjalan memasuki sinagog untuk mengupas kitab Talmud, salah satu tulisan terpenting bagi orang Yahudi.

Para tua-tua membuka kitab pada bagian tersulit dan meminta Samuel menjelaskannya. Tetapi dia nyaris tidak bisa membaca huruf Ibrani, apalagi menafsirkannya! Kelihatannya penipuan itu segera terbongkar. Namun saat terdesak, dia malah semakin cerdik, dan setelah memperhatikan ayat itu beberapa saat, dia berkata, “Saya heran kalian meminta saya menafsirkan ayat sesederhana itu. Bahkan sopir saya yang tak berpendidikan pun sanggup menafsirkannya!” Lalu dia memberi isyarat kepada “sopir” nya untuk maju kedepan dan menafsirkan ayat tersebut, yang dengan mudah dilakukan si sopir.

Banyak dari kita seringkali mengalami kesuliatan di luar kemampuan kita menyelesaikannya. Pada saat-saat seperti itu, adalah baik jika kita memiliki seorang “sopir” yang jauh lebih cerdas dan kuat dibandingkan kita. Salah satu tujuan utama kitab Wahyu adalah meyakinkan kita bahwa Allah sanggup menangani setiap permasalahan kita, dan tidak peduli seberapa buruk keadaan, pada akhirnya Dia akan memenangkan peperangan. Dengan mengabaikan kelemahan kita, maka kita bisa maju terus penuh keyakinan, sadar bahwa Allah yang besar akan memampukan kita.

Tuhan, begitu sering dalam kehidupan ini aku membiarkan diriku terjebak dalam situasi yang tidak sanggup aku bereskan sendiri. Terima kasih atas jaminan bahwa tidak ada perkara yang terlalu sulit untuk Engkau selesaikan.