“Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengantujuh malapetaka terakhir, karena dengan itu berakhirlah MURKA ALLAH” (Wahyu 15:1).

Kitab Wahyu mengilustrasikan berbagai macam perasaan. Karakter-karakter dalam kitab tersebut adalah marah (Why.12:17; 18:3), takut (Why.11:13), bersukacita (Why. 18:20; 19:1-6), dan sangat sedih (Why. 18:9-19). Namun emosi-emosi seperti itu tidak dibatasi hanya sebatas alam duniawi. Yohanes menyoroti Allah yang marah , berang, atau murka (misalnya: Why. 11:18; 14:10, 19; 15:1, 7; 16:1), demikian pula Anak Domba (Why. 6:16, 17).

Tergantung bagaimana seorang mencoba menggolongkannya, ada empat hingga enam emosi utama. Saya piker, emosi-emosi utama mencakup (1) kebahagiaan, (2) kesedihan, (3) amarah, dan (4) rasa takut. Menyangkali kemampuan kita untuk mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya akan memperparah kondisi fisik, mental, dan emosional kita. Anak-anak yang takut mengungkapkan kesedihan atau amarah mereka akan tumbuh besar namun tak mampu mengembangkan hubungan yang sehat dan jujur.

Allah bertujuan agar perasaan amarah, sedih, takut, dan gembira sebagai suatu proteksi dan kelegaan. Itu bagian rancangan-Nya bagi kita. Saat kita menyangkal yang sebenarnya kita rasakan, kita memaksa diri hidup menipu diri sendiri. Hal itu juga menimbulkan konsekwensi pada diri orang-orang lain. Keluarga-keluarga hancur berantakan saat para anggotanya menyembunyikan perasaan mereka karena takut melukai atau memutuskan hubungan. Hal itu menimbulkan hubungan yang tidak jujur atau tak ada hubungan sama sekali.

Seorang wanita berumur 50-an baru saja menjalani mastektomi. Dia bukan saja takut meninggal, tapi juga sangat sedih, meratapi anggota tuguhnya yang hilang. Selain itu, dia juga merasa marah karena karena hal yang tidak mengenakkan itu menimpanya. Penderitaan mental, fisik, dan emosional membanjirinya. Meskipun dia sangat ingin membicarakan perasaannya kepada suaminya, tetapi tipe pria “kuat” suaminya tidak mengizinkannya.

“Engkau akan baik-baik saja,” kata suaminya. Suaminya tidak mampu menangkap ketakutan dan kemarahan istrinya, jadi dia tidak membiarkan istrinya mengeluarkannya. Saat pendeta datang, sang suami mendominasi pembicaraan, sehingga dia tidak memberi kesempatan kepada istrinya melepaskan beban jiwanya karena keyakinan yang salah bahwa orang-orang Kristen harus menanggung penderitaan mereka dengan berdiam diri.

Kita bisa meraih rancangan Allah dengan cara mengungkapkan perasaan kita kepada-Nya. Us melakukannya di kayu salib (Mat. 27:46; Mrk.15:34). Allah bisa menerima itu. Dia lebih memilih protes yang jujur daripada sikap tunduk yang tidak jujur! Dan Dia sudah tahu bagaimana perasaan Anda, jadi Anda aman. Perasaan bisa terluka, tetapi perasaan juga bisa membawa pemulihan, kebersamaan, dan kasih.

Tuhan, inilah perasaan yang sebenarnya hari ini….