“Dan aku melihat sesuatu bagaikan LAUTAN KACA BERCAMPUR API, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah. (Wahyu 15: 2).

Banyak komentator melihat adanya perbedaan antara kedua penyebutan lautan kaca dalam Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 4, lautan kaca itu jernih seperti Kristal, sementara dalam Wahyu 15 lautan kaca itu “bercampur api.” Penyebutan kata api (kata yang sama dengan kuda “berapi” dalam materai kedua) mungkin meerujuk pada warna merah darah Laut Merah setelah pembinasaan bala tentara Firaun. Keluaran 14: 30, 31 mengatakan, “Demikianlah oada hari itu Tuhan menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhampar di pantai laut. Ketika dilihat orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan Tuhan terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan mereka percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Penglihatan adalah anugrah. Itu memberikan kepada kita sudut pandang yang tidak dapat diberikan oleh pendengaran dan sentuhan. Sebagai indera penglihatan mencakup apa yang para fotografer namakan “kedalaman alam.” Kedalaman alam berarti menempatkan objek yang difokuskan lebih dalam yang membantu kita dapat membedakan dengan jelas apa yang kita lihat.

Selama 430 tahun Bangsa Israel hidup dalam budaya asing, menjadi objek penindasan yang mengubah pandangan mereka tentang Allah. Sebagai kekutan dunia, Mesir tidak tertandingi, dan Bangsa Israel bergumul dengan godaan untuk berpikir bahwa Allah mereka juga sama lemahnya dengan mereka. Kemegahan politisme Mesir telah membingungkan mereka. Mereka membutuhkan tulah agar dapat terbebas secara rohani, selain juga secara fisik.

Melihat mayat-mayat orang Mesir di pantai laut, bukan saja berarti para penindas nereka telah mati, tetapi apa yang diwakili Mesir- kekayaan, kesemarakan, intelektualisme, superioritas militer, serta pengaruh agama-sekarang tersapu bersih. Untuk sekian lamanya Bangsa Israel terbabit pada ilusi. Tetapi sekarang mereka bisa melihat jelas bahwa semua yang diwakili Mesir itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah yang peduli kepada Israel.

Semenjak kejatuhan ciptaan-Nya, Allah selalu mencari cara untuk menunjukkan kekuatan tangan-Nya di dunia ini. Itu sebabnya Allah mengizinkan yang jahat berjalan berdampingan dengan yang baik, supaya kita boleh menghargai yang baik. Tetapi Dia juga menjanjikan, jika kita mengikuti Dia dengan taat hingga ke Tanah Perjanjian, maka Dia akan membuat berlalu segala sesuatu yang selama ini memperdaya dan menghancurkan kita. Suatau hari nanti Dia akan menghapuskan dosa, maut, dan kubur (Why. 20:6-15), dan kita akan “menyaksikan” “Bangsa Mesir rohani “ mati terkapar di pantai-pantai laut.

Tuhan, aku butuh kedalaman alam rohani agar aku bisa membedakan dengan jelas kebenaran di antara hal-hal yang bisa mengalihkan perhatiaanku.