“Kemudian dari pada itu aku melihat orang membuka BAIT SUCI-KEMAH KESAKSIAN-DI SORGA. Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan akan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas” (Wahyu 15:5,6).

Disinggungnya Bait Suci di surga adalah satu di anatara banyak penyebutan bait suci di dalam Kitab Wahyu. Masing-masing ketujuh bagian diawali dengan latar belakang yang didasarkan pada bait suci. Izinkanlah saya merangkumnya secara singkat.

Wahyu 1: 12-20. Yesus berjalan di antara ketujuh kaki dian. Dia tidak berada di Bait Suci di surga, tetapi di Patmos (ayat 9-12). Kaki dian melambangkan jemaat di bumi ini (ayat 20). Jadi jemaat Allah adalah Bait Suci dalam pengertiannya sendiri (1Kor. 3:17; 1Ptr. 2:1-10).

Wahyu 4-5. Berisikan perpaduan gambaran-gambaran setiap bagian dan upacara Bait Suci. Pemandangan ini mungkin mewakili penthabisan Bait Suci itu sendiri, dan setiap bagian Bait Suci didedikasikan bagi Allah.

Wahyu 8: 3-5. Focus dalam ayat ini adalah pengantaraan. Doa-doa orang kudus dipadukan dengan kemenyan, semakin memperkuat keefektifannya dihadapan Allah.

Wahyu 11: 19. Di sini terdapat pemandangan Bilik Mahakudus, yang berisikan tabut perjanjian. Itu muncul dalam konteks penghakiman.

Wahyu 15: 5-8. Dalam Wahyu 15 dan 16, Bait Suci dikosongkan dan tidak dipergunakan lagi. Bait Suci surgawi, ditahbiskan di dalam Wahyu 4 dan 5 melewati tahap-tahap pengantaraan dan penghakiman, dan di sini ditutup. Ibadah itu telah dihentikan.

Wahyu 19:1-10. Kita melihat tidak adanya perabotan bait suci dalam ayat ini: tidak ada bangunan, tidak ada pedupaan, tidak ada mezbah, tidak ada tabut perjanjian, tidak ada kaki dian. Ibadah ada, seperti halnya dalam Wahyu 4 dan 5, tetapi tanpa referensi langsung pada Bait Suci dan perabotnya.

Wahyu 21:1-8. Di dalam Wahyu 21:2, 3, “tabernakel” sebenarnya adalah Yerusalem Baru yang turun ke bumi. Kota ini berbentuk kubus, sama seperti Bilik Mahakudus di Bait Suci. Allah dan Anak Domba menjadi bait suci kota tersebut.

Kitab Wahyu memperlihatkan suatu siklus Bait Suci yang lengkap. Siklus tersebut bermula di bumi (Why.1) dan berakhir di bumi (Why.21). di lain pihak, latar pada pasal 2-6 memfokuskan pada Bait Suci surgawi sepanjang Era Kekristenan. Bait Suci itu ditahbiskan, melewati fase-fase pengantaraan dan penghakiman, lalu diterlantarkan. Saat rencana keselamatan berakhir, bait suci tidak lagi dibutuhkan.

Tuhan, tolong aku untuk memanfaatkan setiap pemeliharaan yang Engkau sediakan bagi keselamatanku.