“Kemudian pada hari itu aku melihat orang yang membuka Bait Suci-kemah kesaksian-di sorga. Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suc, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kulauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Dan satu dari keempat mahluk itu memberikan kepada ketujuh malaikat itu TUJUH CAWAN DARI EMAS yang penuh berisi murka Allah yang hidup sampai selam-lamanya” (Wahyu 15:5-7).

Yohannes sering menegaskan bahasa Perjanjian Lama dalam menuliskan visi-visinya. Tetapi dia tidak mengarahkan pembaca pada ayat-ayat Perjanjian Lama yang spesifik. Kita akan memahami maksudnya hanya dengan kembali ke Perjanjian Lama dan mendalaminya dalam konteks aslinya.

Apakah lemon itu? Ya, tentunya adalah buah sitrun berasa masam. Namun istilah ini memiliki makna yang lebih luas dalam budaya Amerika. Lemon adalah mobil baru yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Walaupun mungkin baru, mobil tersebut menimbulkan banyak masalah kepada pemiliknya dan menyita terlalu banyak waktu di bengkel.

Nah, jika Anda tinggal di Amerika Serikat, Anda pasti tidak asing lagi dengan penggunaan simbolik dari kata “lemon” ini. Dalam konteks dunia otomotif, lemon adalah mobil baru yang jelek. Tetapi mungkin Anda tidak tahu bagaimana makna ini menjadi popular. Kurang lebih 35 tahun yang lalu,Ralph Nader menerbitkan buku berjudul What to Do With Your Bad Car. Pada sambul buku tersebut terpampang foto buah lemon dengan empat roda plastik. Membaca judulnya lalu menatap foto itu menimbulkan dampak langsung. “Lemon” sebagai symbol berkonotasi otomotif pun menyebar luas.

Tetapi kebanyakan orang Amerika tidak perlu mengetahui kepingan sejarahitu untuk memahami makna luas “lemon.” Anda memungut informasi itu dari budaya Amerika. Dan seandainya Anda sedang menulis atau membicarakan tentang lemon, pendengar Anda secara otomatis akan paham, entah mereka pernah mendengar tentang Ralph Nader ataukah tidak.

Tujuh cawan murka merupakan warisan mengerikan kitab Wahyu kepada dunia. Bersama ketujuh sangkakala, cawan murka ini membentuk gambaran tentang penderitaan, serangan, sertya ketidak relaan untuk bertobat. Namun dalam budaya Yahudi justru cawan memiliki makna positif. Kata untuk “cawan” muncul berulang kali di dalam naskah dan menggambarkan perkakas Bait Suci dalam Perjanjian Lama (Kel. 27:3; 38:3; Bil. 4:14; 2 Raj. 25:14; 2 Taw. 4:8,22). Cawan juga disebut-sebut dalam Wahyu 5:8 sebagai berisikan doa orang-orang kudus. Jadi, saat murka Allah melanda dunia ini, Dia masihtetap mendengarkan doa-doa umat-Nya.

Tuhan, ditengah-tengah tragedi aku ingin berdoa lebih lagi, ingin selaras dengan-Mu di dalam rencana-Mu untuk menyelamatkan semua orang. Beri aku hati untuk betindak sebagai perantaraan-Mu di dunia ini, satu untuk satu waktu.