“Kemudian dari pada itu aku melihat orang membuka Bait Suci-kemah kesaksian-di sorga. Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkialu-kilauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Dan satu dari keempat makhluk itu memberikan kepada ketujuh malaikat itu tujuh cawan dari emas yang penuh berisikan murka Allah, yaitu Allah yang hidup sampai selama-lamanya. Dan BAIT SUCI DIPENUHI ASAP KARENA KEMULIAAN TUHAN dan karena kuasa-Nya, dan SEORANGPUN TIDAK DAPAT MEMASUKI BAIT SUCI ITU, sebelum berakhir ketujuh malapetaka dari kaetujuh malaikat itu” (Wahyu 15:5-8).

Kontras dengan asap yang berasal dari penyiksaan dunia (Why. 14:10, 11), di sini kita baca tentang asap dari kemuliaan Tuhan. Itu mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa yang membarengi kesejajaran tabernakel di padang belantara (Kel. 4)34,35) dengan tabernakel di Bait Suci Salomo ( 1 Raj. 8:10-12). Allah memenuhi kedua tempat itu dengan kemuliaan-Nya karena kesetiaan mereka. Di dalam Wahyu 15, Dia melakukannya sebagai tanggapan-Nya terhadap penyembahan orang-orang kudus-Nya (Why. 15:3,4), yang menderita di tangan orang-orang fasik yang kini merasakan penghakiman-Nya.

Setelah pembuangan ke Babel, Zerubabel mendirikan Bait Allah yang lebih sederhana (Hag. 1:12-2:9) menggantikan Bait Allah Salomo yang dihancurkan Nebukadnezar (2 Taw. 36:18,19). Dirayakan juga penahbisannya (Ex. 6:13-18). Ibadah yang sama juga diadakan hampir 100 tahun kemudian untuk merayakan rampungnya pembangunan tembok Yerusalem di bawah kepemimpinan Nehemia, yang sekali lagi dengan amannya melingkupi area suci itu.

Akan tetapi, Hari Raya Penahbisan sebagaimana yang kita kenal (kini disebut Hanukkah), tidak berawal dari zaman Perjanjian Lama. Perayaan itu merayakan penahbisan kembali Bait Allah di Yerusalem setelah dinista oleh Antiouchus Epiphanes (165 S.M.). Keterlaluannya, Antiouchus mempersembahkan seekor babi di mezbah Bait Suci, melarang perayaan Sabat, dan memaksa orang-orang Yahudi memakan daging babi. Setelah kaum Makkabe membebaskan Yerusalem dari cengkraman Antiochus, mereka menyucikan dan menahbiskan kembali bait suci. Perayaan ini kemudian menjadi hari raya tahunan Yudaisme (yang dihadiri oleh Yesus sendiri – Yoh. 10:22).

Dalam ayat hari ini sebenarnya tersirat adanya “penistaan.” Kemuliaan Allah mengusir keluar para malaikat. Namun kemudian bukannya kembali untuk melaksanakan tugas-tugas mereka di Bait Suci, sebagaimana kasusnya untuk ibadah penahbisan, mereka lanjut pada tugas-tugas lain yang lebih sulit. Allah menandai peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan dalam hidup ini, selain juga peristiwa-peristiwa yang menyenangkan. Untuk beberapa pasal kedepan dari Kitab Wahyu, keadaan akan menjadi sangat tidak menyenangkan.

Tuhan, bukalah Bait Suci-Mu, jika itu tidak bertentangan dengan kehendak-Mu. Persiapkan aku untuk menghadapi penutupan sejarah bumi.