“Dan aku me ndengar suara yang nyaring dari dalam Bait Suci berkata kepada ketujuh malaikat itu: ‘Pergilah dan tumpahkanlah KETUJUH CAWAN MURKA ALLAH itu keatas bumi.’ Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya keatas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang mennyembah patungnya” (Wahyu 16:1, 2).

Apakah tulah-tulah itu bersifat harfiah ataukah simbolis? Sulit untuk diketahui. Gambaran-gambaran dalam kitab Wahyu biasanya menuntut penafsiran secara simbolis. Hampir enam bagian kitab, terutama yang berbicara tentang meterai dan sangkakala, masuk akal hanya dalam pengertian simbolis.

Secara figuratife atau simbolis, tulah-tulah melambangkan konsekuensi yang diakibatkan dosa. Perjanjiam lama menyebutnya kutukan perjanjian. Bisul yang diakibatkan cawan pertama mirip dengan penyakit kusta, lambang kebusukan yang disebabkan dosa terhadap jiwa. Air berubah menjadi darah bisa diartikan harfiah. Jika Anda memandang gambaran itu secara simbolis, mungkin itu melambangkan bahwa mereka yang hatinya penuh dengan dosa akan kehilangan akses terhadap air hidup. Teriknya matahari bisa jadi melambangkan firman Allah saat menyoroti dosa dan menyerukan penghakiman kepada orang-orang yang menentang Dia.

Namun pada akhirnya, tulah akan merujuk pada pengalaman buruk orang-orang fasik pada generasi terakhir ini. Mereka akan menderita barah dan penyakit, polusi yang ekstrem,serta cuaca tak terkendali. Segala sesuatu yang dirancang untuk membuat kehidupan ini layak dijalani, telah diambil dari mereka.

Orang-orang zaman sekarang tidak membicarakan tentang penghakiman Allah. Mereka merasa bahwa Allah tidak pantas menghakimi. Menjadikan Allah baik namun tidak tegas berarti menyangkal Ketuhanannya atas dunia yang penuh penderitaan ini. Menghadapi kesukaran tanpa sedikit merasa bahwa Allah punya rencana dengan semua itu hanya akan mengarah pada penerimaan yang bersifat fatalistic. Allah yang tidak pernah menghakimi dunia ini bukanlah Allah dalam Kitab Suci, tapi berhala yang kita buat sendiri.

Saya bukannya mengatakan bahwa setiap kali seorang menderita itu akibat penghakiman Allah. Sebagian orang mungkin mengalami penderitaan sebagai penghakiman, sementara yang lainnya menghadapi penderitaan sebagai ujuan iman. Jarang sekali penderitaan mengungkapkan tujuannya kepada kita, tetapi itu selalu mengarahkan perhatian kita kepada Allah yang dapat membantu kita memahami tujuan penderitaan kita. Dengan semua keburukan terjadi di dunia ini, tidak sulit bagi kita untuk percaya bahwa dunia membutuhkan penghakiman Allah yang mendatangkan keadilan.

Tuhan, berilah aku keyakinan untuk memercayai kuasa-Mu atas dunia ini hingga saat itu tiba.