“Dan MALAIKAT YANG KEDUA MENUMPAHKAN CAWANNYA KE ATAS LAUT; MAKA AIRNYA MENJADI DARAH, SEPERTI DARAH ORANG MATI dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut” (Wahyu 16: 3).

Ayat hari ini menyoroti suatu masalah besar dalam masalah lingkungan. Air di lautan, pantai-pantai, serta teluk-teluk di dunia berubah menjadi substansi menyerupai darah yang mematikan makhul-makhluk air. Tulah dalam Wahyu 16 menggenapi janji dalam Wahyu 11:18 bahwa Allah akan “membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.”

Bumi ini milik Allah (Mzm. 24:1), jadi mereka yang merusaknya menantang aturan Allah, entah disadari atau tidak. Allah menempatkan kita dalam sebuah planet yang diselaraskan dengan kenyamanan dan memberi dukungan pada kita. Saat kita merusak ciptaan-Nya, kita menimpakan penghakiman atas kita sendiri. Contoh hal ini, lihatlah kondisi lautan saat ini.

Umat manusia sedang menghancurkan lautan. Pada abad ke-19, ikan cod tak terbilang di lepas pantai timur laut Amerika Serikat sehingga para wisatawan Eropa dapat menangkap ikan-ikan itu hanya dengan memasukkan keranjang kedalam air. “Dihubungkan dengan cara menangkap iakn saat ini,” ahli biologi terkemuka T. H. Huxley mengatakan di tahun 1883, “ beberapa industry perikanan terpenting, seperti industry perikanan cod, memiliki sumber daya yang tak habis-habisnya.” Dewasa ini, kelimpahan sumbeer daya yang disanjung-sanjung oleh Huxley itu berada di ambang kepunahan. Ahli biologi, Daniel Pauly memperingatkan di dalam New York Times, generasi mendatang tidak akan kebagian apa-apa selain beberapa gelintir plankton.

Sekitar 28 persen persediaan ikan di seluruh dunia nyaris punah, sementara 48 persen lagi mendekati batas-batas kelangsungannya. Tim dari University of British Columbia yang dipimpin Paul, baru-baru ini memprediksi banyak spesies-spesies besar akan punah “punah dari wilayah Amerika Utara dalam waktu beberapa decade.” Umat manusia sedang memulai apa yang setara dengan bom neutron air, di mana lingkungan laut tetap utuh namun semua penghuninya terbunuh.

Sementara itu, permintaan akan ikan terus membumbung. Komsumsi ikan bertambah berlipat ganda antara tahun 1973 dan 1997. Tahun 2020 nanti jumalah tangkapan mesti dilipatgandakan hampir setengahnya untuk dapat memenuhi permintaan. Permintaan terbesar datang dari negara-negara berkembang di Asia, yang warganya sulit diberituhukan untuk mengkomsumsi lebih sedikit protein dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat.

Di dalam belas kasih-Nya, Allah menciptakan bumi ini untuk dapat membersihkan dan memperbaruhi diri. Bumi telah banyak dirusak. Namun dalam hidup ini taidak ada yang cuma-cuma. Kita akan menuai apa yang kita kabur.

Tuhan, ajar aku untuk menjalankan penatalayanan dalam hubunganku dengan bumi. Biarlah tindakanku mengakui bahwa bumi ini adalah milik-Mu.