“DAN MALAIKAT YANG KETIGA MENUMPAHKAN CAWANNYA ATAS SUNGAI-SUNGAI DAN MATA-MATA AIR, DAN SEMUANYA MENJADI DARAH. Dan aku mendengar malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: ‘Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini. Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, ENGKAU JUGA TELAH MEMBERI MEREKA MINUM DARAH, HAL ITU WAJAR BAGI MEREKA!’” (Wahyu 16:4-6).

Kita melihat bahwa sebelum tulah-tulah diturunkan ke bumi, Bait Allah di surga berhenti berfungsi (Why. 15:5-8). Kemuliaan Allah begitu besar sehinggamalaikat-malaikat ketujuh cawan meninggalkan Bait Allah dadn tidak kembali lagi. Penutupan Bait Allah di surga menandakan penutupan pintu kasihan bagi manusia. Mulai saat itu tidak akan ada lagi pertobatan. Jadi penderitaan yang dialami di dalam tujuh malapetaka terakhir tidak dirancang membawa siapapun juga untuk bertobat.

Jika demikian, apakah tujuan tulah-tulah itu? Jika tulah-tulah itu terjadi setelah penutupan pointu kasihan, untuk apa menambah-nambah penderitaan dunia ini? Jika orang-orang tidak lagi bisa bertobat, agaknya kejam dan tak pantas menyiksa mereka lagi. Namun jawabannya mungkin terletak pada tema utama yang mendasari. Allah itu adil saat Dia melaksanakan penghakiman bagi orang-orang fasik, balasan setimpal dengan perbuatan mereka (Why. 16:5-7). Dengan kata lain, hukumannya setimpal dengan perbuatan.

“Tidakkah orang-orang fasik akan berubah jika mereka mengenal Allah lebih baik atau memperoleh kesempatan yang sama seperti orang-orang benar?” Tulah-tulah menjawab pertanyaan tersebut. Dinyatakan bahwa orang-orang fasik akan selalu menentang Allah, dalam situasi apapun. Makin buruk keadaan, mereka semakin menentang-Nya. Tulah-tulah itu sekarang membuktikan orang-orang fasik menolak kembali kepada-Nya, mengabaikan apa pun yang Dia kondisikan kepada jalan hidup mereka (Why. 16:9, 11, 21).

Orang-orang benar juga banyak menderita di hari-hari terakhir (Why. 13:9, 10; 17:14). Namun penderitaan itu tidak membuat mereka berpaling dari jalan-jalan mereka. Mereka tetap benar, dan orang-orang fasik tetap fasik (Why. 22:11). Jadi, penutupan pintu kasihan bukanlah suatu penghakiman sewenang-wenang yang bersifat sepihak.

Tulah-tulah itu juga bukannya tindakan sewenag-wenang, sekalipun terjadi setelah pintu kasihan, karena bagian rencana Allah. Sungai-sungai dan mata-mata air yang berubah jadi drah merupakan hal yang wajar bagi orang-orang jahat. Mereka yang telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi sekarang diberi minum darah sebagai balasannya.

Tuhan, setiap kali aku tergoda untuk melakukan kesenagan sesaat, bukannya kehendak-Mu, buat aku tetap waspada terhadap konsekuensi mengerikan dari dosa.