“Dan AKU MENDENGAR MEZBAH ITU BERKATA: ‘Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu’” (Wahyu 16: 7).

Ini sesuatu yang baru-mezbah bisa berbicara! Banyak makhluk-makhluk ganjil berbicara dalam Kitab wahyu; tetapi yang satu ini mengalahkan semuanya. Ini sedikit mengingatkan saya pada komentar Yesus mengenai batu yang berseru-seru memuliakan Dia jika orang-orang tidak berbuat demikian. Tetapi mengapakah mezbah di hadapan takhta menyatakan keadilan Allah?

Kita temukan petunjuk dalam Wahyu 8:3, 4. Dalam ayat itu, mezbah emas adalah tempat di mana doa-doa orang kudus naik, bercampur dengan kemenyan. “Doa orang-orang kudus” sebenarnya adalah gema jiwa-jiwa di bawah mezba dalam Wahyu 6:9, 10. Jiwa-jiwa ini memohon kepada Allah dikarenakan perlakuan tak adil yang mereka terima dari orang-orang yang hidup di bumi. Jadi mezba adalah tempat menampung doa orang-orang kudus yang diperlakukan tak adil, dibunuh, atau disiksa karena iman mereka. Itu adalah tempat disurga di mana semua permohonan keadilan yang naik dari bumi berkumpul. Bara api, melambangkan murka Allah berkenan dengan ketidakadilan seperti itu, memenuhi mezbah. Kitab Wahyu menggambarkan saat-saat ketika api penghakiman Allah mengenai setiap pelaku ketidakadilan.

Namun mezbah juga melambangkan sesuatu yang lain. Itu juga tempat dimana persembahan darah dibawa, dikuduskan dalam cawan dupa. Jadi mezbah juga melambangkan pengampunan. Setiap pendosa dapat menghampiri mezbah dan beban dosanya diangkat. Bahkan mereka yang telah melakukan kejahatan mengerikan pun bisa datang ke hadapan mezbah dengan bertobat, maka dia menerima pengampunan.

Kengerian yang ditumpahkan kepada orang-orang fasik. Allah inginkan agar setiap pendosa diampuni dan disucikan. Dia tidak memaksa siapa pun juga untuk menghadapi murka-Nya. Anak Domba telah mati bagi kita. Kristus membiarkan diri-Nya mengalami api murka Allah sehingga semua orang tidak perlu melakukannya, kecuali dengan keputusan mereka sendiri. Jika kita meletakkan dosa-dosa kita di atas mezbah, dosa-dosa itu akan dibakar di sana. Tetapi jika kita memilih tidak bertobat, bersikeras mempertahankan dosa-dosa kita, mezbah akan membakar kita bersama-sama dengan dosa-dosa itu. Mereka yang berpikir “dapat mengandalkan kekuatan sendiri’’ tak akan di pisahkan dari dosa-dosa mereka atau konsekuensi utama dosa-dosa mereka.

Itulah sebabnya kita mendapati begitu banyak tulah dan pertumpuhan darah di dalam kitab Wahyu. Wahyu menyampaikan panggilan Allah agar kembali kepada-Nya sebelum terlambat. Untuk mendapatkan perhatian kita, Wahyu menyoroti konsekuensi-konsekuensi bila kita tidak kembali kepada Pencipta dan Juruselamat kita. Pilihannya tergantung pada kita.

Tuhan, aku melihat dengan lebih jelas kenyataan dosa di dalam hidupku serta konsekuensi jika aku tidak mencari pengampunan serta pengudusan-Mu.