“Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah ROH-ROH SETAN YANG MENGADAKAN PERBUATAN-PERBUATAN AJAIB, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari yang besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa” (Wahyu 16:13-14).

Ayat ini memiliki persamaan dengan Wahyu 13:13, 14, di mana binatang yang keluar dari dalam bumi menurunkan api dari langit untuk memperdaya mereka yang ada di bumi. Di sini tritunggal palsu (naga, binatang, dan nabi palsu) mengutus roh-roh najis mengadakan tanda-tanda ajaib untuk memperdaya para pemimpin dunia sehingga mereka berpihak kepadanya menjelang peperangan terakhir dalam sejarah bumi.

Bagi banyak orang, agaknya bagi mereka yang terperdaya tipuan tidak bertanggung jawab dengan apa yang mereka tidak lihat atau pahami. Namun kenyataanya, orang-orang membuka diri terhadap penipuan dikarenakan keserahkahan atau perasaan iri hati atau motivasi egois lain. Dengan demikian, terperdaya tidak bisa dijadikan alasan, itu adalah suatu konsekuensi, suatu fakta yang diilustrasikan oleh sebuah lelucon Yahudi.

Kisah ini bercerita bahwa di penghujung tahun 1900-an, seorang Yahudi tua sedang bepergian sendirian menggunakan Trans Siberian Railrood. Kereta berhenti, dan seorang opsir dengan seragam tzar memasuki gerbong. Dia dan Yahudi itu untuk beberapa waktu saling berdiam diri. Tiba-tiba, opsir itu menyambar punca baju si Yahudi dan menuntut, “Katakan, mengapa kalian orang-orang Yahudi lebih cerdas dibanding orang-orang lain?”

Terdiam sejenak, si Yahudi lalu menjawab, “Itu dikarenakan ikan herring yang kami makan.”

Opsir itu terdiam, dan perjalanan berlanjut terus. Tidak lama kemudian si Yahudi mengeluarkan sepotong ikan herring dan memakannya. Si opsir bertanya, “Berapa potong herring yang kau punya?” Jawab si Yahudi, “Selusin.”

“Berapakah harga yang kau minta untuk ikan-ikan itu?”
“Dua puluh rubel.” Itu jumlah yang besar.

Opsir itu mengeluarkan uang dan memyerahkannya kepada si Yahudi. Orang tua itu menyodorkan ikan herring, dan si opsir menggigit sepotong. Tiba-tiba dia berhenti. “Ini keterlaluan,” serunya. “Di Moskow aku bisa membeli semua herring itu dengan harga beberapa kopec.”

“Nah, kan, “jawab si Yahudi, “sudah mulai kelihatan efeknya.”
Nah, jelas kita tertawa mendengar lelucon ini. Dalam kisah ini kita melihat bagaimana pria tua itu mengeksploitasi rasa iri dan keserakahan pihak yang satu untuk memoroti uangnya. Pada hari-hari terakhir Setan akan memanfaatkan kelemahan kita untuk mengalihkan kesetiaan kita dari Allah.

Tuhan, aku tidak ingin menberi Setan peluang sedikit pun untuk memasuki kehidupanku. Jagalah aku dengan kuasa darah Yesus.